Mixtape: Nostalgia 1990-an dalam Gim Naratif yang Menyentuh, Namun Kurang Mulus
Baca dalam 60 detik
- Mixtape adalah gim naratif tiga jam yang merayakan budaya remaja California Utara tahun 1990-an dengan lebih dari 30 lagu ikonik.
- Alur cerita yang datar dan mekanisme pemutaran lagu yang kaku mengurangi kenikmatan eksplorasi musik.
- Meski demikian, momen emosional seperti adegan melayang dengan lagu B.J. Thomas berhasil menyentuh pemain.

Mixtape, gim naratif yang dirilis untuk PlayStation 5, PC, Switch 2, dan Xbox Series X|S, mengajak pemain bernostalgia ke masa remaja California Utara era 1990-an. Dengan durasi sekitar tiga jam, gim ini menyajikan petualangan ringan seorang gadis bernama Stacey Rockford yang bercita-cita menjadi pengawas musik di New York. Namun, di balik soundtrack eklektik yang memikat, eksekusi gameplay dan cerita masih menyisakan celah.
Stacey, tokoh utama yang selalu mengenakan headphone oranye dan jaket bertempelan "Brain Ded", bertindak layaknya pemandu video musik interaktif. Ia memperkenalkan setiap lagu dengan trivia, mulai dari Roxy Music hingga Siouxsie and the Banshees. Sayangnya, mekanisme untuk menikmati lagu-lagu tersebut justru terasa merepotkan. Pemain harus menyelesaikan misi dalam setiap babak untuk membuka kunci musik, bukan mendengarkannya secara bebas. Alih-alih menghayati irama, pemain sibuk mengarahkan aksi—sebuah ironi untuk gim yang mengusung tema musik.
Dari segi gameplay, Mixtape menawarkan aktivitas sederhana: berseluncur di pinggiran kota, mencari barang di kamar teman, atau menyusup ke taman hiburan. Dibandingkan dengan seri Life Is Strange atau Lost Records: Bloom & Rage yang lebih mulus mengintegrasikan lagu ke dalam narasi, Mixtape terasa seperti proyek yang lebih kecil. Namun, ada keindahan tersendiri saat meluncur melewati pegunungan megah dengan iringan That’s Good milik Devo, atau merekam pesta bir di hutan gelap dengan latar Candy dari Iggy Pop.
Momen paling emosional hadir saat balada Most Of All milik B.J. Thomas mengiringi adegan Stacey yang melayang di kota Blue Moon Lagoon setelah dikhianati sahabatnya, Cassandra. Adegan ini bukan sekadar kesedihan, melainkan kehilangan kendali—Stacey hanyut terbawa angin menuju tempat yang telah ditentukan. Saat Thomas bernyanyi, "Aku merindukanmu, sayang, di atas segalanya," atmosfernya begitu kuat hingga mampu membuat pemain terharu. Namun, inti cerita justru lemah: konflik utama hanya berkisar pada larangan ayah Cassandra yang seorang polisi setelah insiden minuman keras, sehingga ia tak bisa menghadiri pesta perpisahan Stacey.
Bagi pemain Indonesia, Mixtape mungkin terasa asing secara kultural, tetapi tema universal tentang persahabatan, mimpi, dan kehilangan kendali tetap relevan. Sayangnya, tanpa dukungan bahasa Indonesia dan minimnya akses ke platform distribusi lokal, gim ini hanya akan dinikmati oleh segelintir penggemar berat. Ke depannya, pengembang bisa belajar dari kesuksesan gim naratif lain yang lebih ramah pengguna dalam menyajikan musik—misalnya dengan fitur jukebox mandiri seperti di Mario Kart. Pertanyaannya, akankah Mixtape mendapat cukup perhatian di tengah dominasi gim AAA?



