Sketsa Emily Eden: Potret India Abad ke-19 Sebelum Kamera Menguasai Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pelukis amatir Inggris Emily Eden mendokumentasikan kehidupan India tahun 1830-an melalui sketsa detail, sebelum fotografi menjadi alat utama kolonialisme.
- Karyanya yang kini dipamerkan di Delhi menampilkan beragam subjek, dari bangsawan hingga rakyat biasa, mencerminkan ketertarikan antropologis yang langka pada zamannya.
- Pameran ini membuka jendela bagi publik Indonesia untuk memahami bagaimana seni visual menjadi saksi bisu perubahan sosial-politik di era kolonial.

Jauh sebelum fotografi menjadi bahasa visual imperium, seorang perempuan Inggris bernama Emily Eden telah menggoreskan pena dan kuasnya untuk merekam kehidupan masyarakat India dengan ketelitian dan rasa ingin tahu yang luar biasa. Perjalanannya di anak benua itu pada 1830-an tidak hanya meninggalkan warisan seni, tetapi juga menjadi dokumen antropologis yang langka tentang masa transisi politik dan budaya.
Emily Eden, yang berasal dari keluarga politik paling berpengaruh di Inggris, menemani kakaknya, George EdenโGubernur Jenderal Indiaโdalam lawatan ke India Utara. Selama enam tahun, ia tidak hanya melukis para pangeran, jenderal, dan bangsawan, tetapi juga para pelayan, pengelana, fakir, bangsawan Afghan dan Sikh, prajurit Akali, komunitas pegunungan, hingga hewan-hewan yang menemani perjalanan imperial. Rentang subjek yang luas ini membedakannya dari seniman sezamannya.
Lebih dari dua lusin sketsanya diterbitkan pada 1844 dalam album Portraits of the Princes and People of India. Kini, karya-karya itu menjadi inti pameran Princes & People di DAG, Delhi, yang dikuratori oleh sejarawan seni Mary Ann Prior. Pameran ini menghadirkan seluruh seri litograf berwarna tangan yang dibuat dari sketsa asli Eden, memberikan kesempatan bagi publik untuk menyaksikan langsung bagaimana seorang perempuan Victoria memandang dunia kolonial.
Ketertarikan Eden tidak datang secara instan. Awalnya, ia mengalami gegar budaya yang hebat: perempuan yang pergi ke gereja tanpa topi, nyamuk rakus, panas yang tak tertahankan, hiruk-pikuk anjing, gagak, serigala, dan layang-layang Brahmana membuatnya enggan meninggalkan rumah. Namun, seiring waktu, rasa ingin tahunya mengalahkan rasa tidak nyaman. Ia mulai melukis dengan rajin, dan karya-karyanya laris di pasar amal Shimla, dikagumi oleh komunitas Inggris di India, bahkan ditiru oleh seniman lokal.
Menurut Mary Ann Prior, sketsa India Eden termasuk yang terbaik yang pernah dihasilkan oleh seniman perempuan Inggris pada era Regency dan Victoria. Hanya Charlotte Canning yang terkenal dengan lukisan botaninya, dan kemudian Marianne North, yang bisa menyaingi pencapaiannya. Namun, di balik ketajaman pengamatannya, Eden tetap meyakini misi peradaban Inggris. Ia memandang tahun-tahunnya di India sebagai "cobaan yang tidak menyenangkan yang harus dijalani untuk tujuan yang lebih tinggi", membingkai kekuasaan kolonial sebagai kewajiban untuk "memperadabkan" negeri jajahan.
Bagi pembaca Indonesia, pameran ini menawarkan refleksi tentang bagaimana seni visual dapat menjadi alat untuk memahami dinamika kekuasaan dan pertukaran budaya di era kolonial. Seperti halnya Indonesia yang memiliki catatan visual dari para pelukis Eropa seperti Raden Saleh atau pelukis Belanda, sketsa Eden mengingatkan bahwa di balik setiap goresan kuas terdapat narasi politik dan sosial yang kompleks. Pertanyaannya, sejauh mana kita mampu membaca pesan di balik gambar-gambar itu tanpa terjebak dalam romantisme kolonial?



