China Sukses Tangkap Roket di Laut, Tantang Dominasi SpaceX
Baca dalam 60 detik
- Roket Long March 10B berhasil dijemput dengan jaring di platform lepas pantai, menandai pertama kalinya China memulihkan roket kelas orbit.
- Teknologi penangkapan ini berbeda dengan pendaratan otonom Falcon 9 milik SpaceX, menggunakan 'kait pendarat' untuk mengamankan booster.
- Keberhasilan ini membuka jalan bagi China untuk menekan biaya peluncuran satelit komersial, termasuk potensi kerja sama dengan Indonesia.

China untuk pertama kalinya berhasil memulihkan roket kelas orbit setelah uji coba sistem penangkapan menggunakan jaring raksasa di platform laut, sebuah langkah strategis untuk memangkas dominasi Amerika Serikat dalam teknologi roket yang dapat digunakan kembali.
Roket Long March 10B lepas landas dari lokasi peluncuran komersial Hainan di China selatan pada Kamis (10/7). Sekitar enam menit setelah pemisahan booster dan tahap atas, booster kembali secara vertikal dan berhasil diamankan di platform lepas pantai, demikian dilaporkan stasiun televisi pemerintah CCTV. Uji coba ini menjadi tonggak penting bagi program antariksa China yang telah menghabiskan hampir satu dekade mengembangkan teknologi roket reusable.
Berbeda dengan Falcon 9 milik SpaceX yang mendarat otonom menggunakan kaki pendarat di darat atau kapal drone, Long March 10B mengandalkan "kait pendarat" untuk menangkap jaring yang dipasang di platform laut. Metode ini dinilai lebih sederhana secara teknis namun tetap efektif untuk memulihkan booster. Menurut para analis, pendekatan China mencerminkan strategi berbeda dalam mengejar efisiensi biaya tanpa harus meniru persis teknologi AS.
Keberhasilan ini memiliki implikasi langsung bagi Indonesia, yang tengah mengembangkan ekosistem satelit komersial. Dengan biaya peluncuran yang lebih murah, China dapat menawarkan jasa peluncuran yang lebih kompetitif bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada roket asing untuk meluncurkan satelit komunikasi dan observasi Bumi. Jika China mampu mengomersialkan Long March 10B, biaya peluncuran bisa turun hingga 30-50 persen, membuka peluang bagi lebih banyak misi antariksa nasional.
SpaceX pertama kali mendaratkan Falcon 9 dari penerbangan orbit pada Desember 2015, disusul Blue Origin dengan New Glenn pada November 2025. China tertinggal sekitar satu dekade, namun dengan percepatan uji coba, jarak itu diperkirakan menyempit. Menurut pejabat China Academy of Launch Vehicle Technology, pengembang Long March 10B, sistem reusable akan menjadi tulang punggung peluncuran komersial China dalam lima tahun ke depan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah China dapat mempertahankan tingkat keandalan dan frekuensi peluncuran seperti SpaceX. Dengan target peluncuran komersial yang terus meningkat, keberhasilan uji coba ini menjadi sinyal bahwa persaingan antariksa global memasuki babak baruโdi mana efisiensi biaya dan inovasi teknologi menjadi medan pertempuran utama.



