Topan Bavi Mendekati China, 50 Tewas Akibat Badai Berturut-turut
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi dengan kecepatan 155 km/jam diperkirakan menghantam pesisir China timur, setelah sebelumnya menerjang Taiwan dan Jepang.
- Dalam sepekan terakhir, dua badai lainโMaysak dan tornado di Hubeiโmenewaskan 50 orang di China selatan dan tengah.
- Evakuasi massal dan siaga darurat dilakukan di Zhejiang dan Fujian, sementara Indonesia perlu waspada terhadap potensi cuaca ekstrem serupa.

Topan kuat Bavi bergerak menuju pesisir timur China dan diperkirakan mencapai daratan pada Sabtu malam, menambah daftar panjang bencana hidrometeorologi yang telah menewaskan puluhan orang di negara itu pekan ini. Dengan kecepatan angin maksimum 155 kilometer per jam, Bavi sempat menjadi supertopan sebelum melemah, tetapi tetap membawa ancaman banjir dan longsor di wilayah padat penduduk.
Sebelum mencapai China, Bavi diperkirakan melintas di utara Taiwan pada Jumat malam hingga Sabtu, mengguyur pulau berpenduduk 23 juta jiwa dengan hujan deras. Otoritas Taipei menutup sekolah-sekolah pada Jumat dan mengikat kapal nelayan di pelabuhan utara. Sejumlah penerbangan menuju Jepang, Hong Kong, dan destinasi lain dibatalkan hingga Sabtu, meski beberapa masih beroperasi seperti dilaporkan Kantor Berita Pusat Taiwan.
Di China, persiapan menghadapi Bavi sudah dimulai sejak awal pekan. Lebih dari 17.000 warga di Provinsi Zhejiang telah dievakuasi, sementara 170.000 petugas penyelamat disiagakan, menurut kantor berita Xinhua. Provinsi Fujian menangguhkan beberapa rute feri akibat angin kencang dan gelombang tinggi, serta meminta kapal nelayan kembali ke pelabuhan. Jalur topan saat ini mengarah ke daratan di selatan Shanghai, dekat perbatasan Fujian dan Zhejiang.
Bencana ini terjadi setelah China selatan dilanda banjir bandang akibat Badai Tropis Maysak pekan lalu, yang menewaskan 39 orang di wilayah Guangxi. Curah hujan ekstrem menyebabkan jebolnya tanggul di Hengzhou, membanjiri area luas dengan air berlumpur deras. Ribuan warga terdampar di lantai dua atau lebih tinggi bangunan tanpa listrik selama berhari-hari hingga tim penyelamat tiba. Di China tengah, badai petir hebat dan tornado di Provinsi Hubei pada Senin malam menewaskan 11 orang. Secara terpisah, longsor di Gansu barat menewaskan 21 pekerja kehutanan pada Selasa, yang tidak terkait dengan badai.
Rentetan badai ini menyoroti kerentanan Asia Timur terhadap cuaca ekstrem yang diperparah perubahan iklim. Bagi Indonesia, meski tidak berada di jalur langsung topan, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan frekuensi siklon tropis di sekitar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, yang dapat memicu cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan angin kencang di berbagai wilayah.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah infrastruktur penanggulangan bencana di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, mampu menghadapi intensitas badai yang semakin tinggi. Dengan prediksi bahwa musim topan tahun ini akan lebih aktif dari rata-rata, kerja sama regional dalam sistem peringatan dini dan evakuasi menjadi semakin krusial.



