Mencari Jodoh di Vihara: Cara Unik Korea Selatan Atasi Krisis Demografi
Baca dalam 60 detik
- Korea Selatan menggelar retret jodoh di Vihara Donghwasa untuk mendorong pernikahan dan kelahiran di tengah angka fertilitas yang anjlok.
- Peserta yang lolos seleksi ketat mengikuti serangkaian aktivitas selama 30 jam, dari kencan hingga pertunjukan bakat, demi menemukan pasangan.
- Meski angka kelahiran mulai naik tipis pada 2024, efektivitas program ini masih dipertanyakan karena faktor lain seperti efek pandemi.

Di balik tembok Vihara Donghwasa yang berusia delapan abad, dua belas pria dan dua belas wanita duduk berhadap-hadapan, bukan untuk bersemedi, melainkan untuk mencari jodoh. Seorang biksu berjubah oranye membuka acara dengan pesan yang tak biasa: mereka di sini untuk menyelamatkan negara dari krisis kelahiran yang mengkhawatirkan.
Retret kencan selama 30 jam ini digagas oleh pemerintah daerah dan kelompok masyarakat sipil sebagai respons terhadap angka kelahiran Korea Selatan yang terus merosot. Pada 2023, tingkat kesuburan total (TFR) negara itu menyentuh rekor terendah 0,72—jauh di bawah angka penggantian 2,1. Pemerintah telah menggelontorkan dana sekitar 250 miliar dolar AS sejak 2006 untuk berbagai program pro-natalitas, namun hasilnya baru terlihat tahun lalu ketika TFR diperkirakan naik menjadi 1,0.
Para peserta yang hadir bukanlah sembarang orang. Mereka harus melewati seleksi ketat yang melibatkan kuesioner dan video selfie untuk mengukur keseriusan mereka menikah dan memiliki anak. Dari lebih dari 1.580 pendaftar, hanya 24 orang yang terpilih. Salah satunya adalah Kim Ah-kyung, 28 tahun, yang menggunakan nama Buddhis Sunhyeji. Ia mengaku kesulitan bertemu pria setelah pindah ke provinsi tenggara. “Tidak ada kesempatan bertemu pria. Saya hanya pulang-pergi kerja dan rumah,” ujarnya.
Fenomena ini tak lepas dari perubahan gaya hidup generasi muda Korea. Studi menunjukkan mereka semakin jarang bergaul dan berkencan. Biaya perumahan yang tinggi, kurangnya dukungan pengasuhan anak, serta prioritas karier menjadi alasan klasik. Namun, yang menarik, aplikasi kencan seperti Tinder pun kesulitan menembus pasar Korea hingga akhirnya pada 2015 mengubah strategi pemasaran menjadi aplikasi pencari teman. “Kencan buta yang diatur teman terasa dangkal,” kata Kwon Seung-oh, 30 tahun, peserta lain yang mengaku 97% rekannya di pabrik susu adalah pria.
Retret ini dirancang untuk memecah kebekuan. Dimulai dengan sambutan hangat—para pria berlari membantu wanita membawa koper—lalu kencan pertama di jalur hutan, pemberian mawar plastik, hingga pertunjukan bakat yang canggung. Seorang peserta menari lagu 2PM, yang lain memainkan seruling, dan ada pula yang unjuk kebolehan bahasa Spanyol. Malam harinya, seorang biksu senior berpidato tentang kewajiban bereproduksi dan menyanyikan lagu kebangsaan, namun para peserta lebih sibuk memikirkan nasib asmara mereka.
Hasil akhirnya, delapan pasangan terbentuk, termasuk dua staf acara yang berpasangan dengan peserta. Namun, tidak semua pulang dengan pasangan. Enyo—panggilan Kwon—kecewa karena tak dipilih, tapi ia mengaku akan mencoba lagi jika diberi kesempatan. Sunhyeji, meski tak mendapat jodoh, mengaku senang karena mendapat teman baru dan merasa seperti remaja lagi. “Saya begadang sampai jam 3 pagi bergosip dengan gadis-gadis lain,” katanya.
Pemerintah Korea Selatan memang telah lama menggelar acara perjodohan—mulai dari kencan pertukangan hingga pesta DJ di tepi sungai. Namun, efektivitasnya masih diperdebatkan. Para pejabat lebih cenderung mengaitkan kenaikan angka kelahiran 2024 dengan efek pandemi yang menunda pernikahan dan kelahiran, serta generasi baby boomer yang kini memasuki usia produktif. Survei Maret lalu menunjukkan peningkatan 10% sikap positif terhadap pernikahan dan anak di kalangan lajang dibanding dua tahun sebelumnya. Apakah tren ini akan berlanjut, atau hanya sekadar efek sementara? Jawabannya mungkin baru terlihat dalam beberapa tahun ke depan.



