Changi Airport Uji Coba Gedung Satelit Ber-AC untuk Penerbangan Jauh dari Terminal
Baca dalam 60 detik
- Bandara Changi meresmikan gedung satelit dua lantai ber-AC yang memungkinkan penumpang naik-turun pesawat tanpa terpapar cuaca, mulai Agustus mendatang.
- Fasilitas ini mengurangi separuh kebutuhan personel dibandingkan metode konvensional, serta dilengkapi panel surya dan sistem pendingin otomatis.
- Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Changi menjelang pembukaan Terminal 5 pada pertengahan 2030-an, mengantisipasi lonjakan lalu lintas udara.

Bandara Internasional Changi Singapura akan mengoperasikan gedung satelit baru yang sepenuhnya ber-AC mulai Agustus, mengubah pengalaman naik-turun pesawat bagi penumpang yang terbang dari posisi parkir jauh dari terminal utama. Fasilitas setara lapangan tenis ini menyediakan jembatan udara (aerobridge) dan ramp sepanjang 60 meter yang melingkar, menggantikan tangga terbuka dan bus di apron.
Gedung dua lantai tersebut dirancang untuk meningkatkan kenyamanan dan aksesibilitas, terutama bagi pengguna kursi roda, lansia, keluarga dengan kereta bayi, serta penumpang dengan bagasi jinjing. Ramp yang landai memungkinkan pergerakan tanpa hambatan menuju dua aerobridge. Namun, penumpang tetap harus menempuh perjalanan bus selama lima hingga tujuh menit dari terminal utama ke gedung satelitโperbedaan utamanya adalah proses naik-turun kini terlindung dari panas dan hujan.
Dari sisi operasional, fasilitas ini memangkas kebutuhan tenaga kerja hingga setengahnya. Untuk satu pesawat widebody yang diparkir jauh, metode lama memerlukan empat operator tangga dan dua polisi tambahan. Dengan gedung baru, cukup satu polisi tambahan dan dua operator aerobridge. Efisiensi ini menjadi krusial saat Changi bersiap menghadapi peningkatan volume penumpang menuju pembukaan Terminal 5 pada pertengahan 2030-an.
Saat ini, sekitar 98 persen penerbangan di Changi menggunakan 111 contact stand yang terhubung langsung ke terminal melalui aerobridge. Sisanya, sekitar 20 penerbangan per hari, menggunakan 78 remote stand. Dengan pertumbuhan lalu lintas udara yang terus meningkat, remote stand menjadi semakin vital. Managing Director Airport Operations Control Changi Airport Group, Yeo Kia Thye, menyatakan bahwa fasilitas seperti ini memberikan fleksibilitas operasional saat contact gate penuh, memastikan perjalanan penumpang tetap mulus.
Fase awal pengoperasian akan memprioritaskan penerbangan dengan jumlah penumpang lebih banyak. Changi Airport Group akan menguji perjalanan penumpang secara end-to-end, baik kedatangan maupun keberangkatan, sambil mengevaluasi rencana penambahan gerbang satelit serupa. Faktor permintaan lalu lintas dan kebutuhan operasional akan menjadi pertimbangan utama.
Bagi Indonesia, inovasi Changi ini menjadi referensi bagi bandara-bandara besar seperti Soekarno-Hatta yang juga menghadapi tantangan keterbatasan contact stand dan peningkatan penumpang. Penerapan konsep gedung satelit ber-AC dengan efisiensi energi bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kapasitas tanpa harus membangun terminal baru secara besar-besaran. Dengan target Terminal 5 Changi yang baru beroperasi pada pertengahan 2030-an, langkah ini menunjukkan bagaimana bandara dapat mengoptimalkan ruang dan sumber daya yang ada sambil tetap menjaga kualitas layanan.
Ke depan, apakah bandara-bandara di Indonesia akan mengadopsi model serupa? Atau justru memilih jalur ekspansi terminal konvensional? Jawabannya akan menentukan daya saing bandara nasional dalam melayani lonjakan lalu lintas udara yang diprediksi terus meningkat.



