Api Padam, Pemkab Tangerang Siapkan Embung Antisipasi Kebakaran TPA Jatiwaringin
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, akhirnya padam setelah sepuluh hari, mendorong pembangunan embung sebagai langkah mitigasi.
- Pemerintah daerah masih mempertahankan status tanggap darurat hingga 14 Juli 2026 untuk memastikan tidak ada titik panas tersembunyi.
- BNPB mengingatkan pengelola TPA di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran selama musim kemarau ekstrem.

Kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, akhirnya berhasil dipadamkan setelah berlangsung selama sepuluh hari. Peristiwa ini mendorong Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk segera membangun embung atau kolam buatan di sekitar lokasi sebagai bagian dari upaya mitigasi kebakaran di masa mendatang.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengungkapkan bahwa infrastruktur tersebut akan dibangun di sepanjang akses jalan dari Mauk menuju TPA. "Pembuatan embung di sekitar TPA sebagai langkah mitigasi dan meminimalisir kejadian serupa terulang," ujarnya, Jumat (10/7). Meski api telah padam, pemerintah daerah belum mencabut status tanggap darurat bencana yang akan berakhir pada 14 Juli 2026.
Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid, menegaskan bahwa status tersebut masih dipertahankan untuk memungkinkan pemantauan intensif. "Ini akan kita selesaikan sampai dengan tanggal 14. Nanti akan kita lihat setelah tanggal 14 apakah perlu diperpanjang atau kondisinya sudah landai seperti sekarang," jelasnya. Proses pendinginan terus dilakukan oleh petugas gabungan dari BPBD dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memastikan tidak ada sisa titik panas yang dapat memicu kebakaran susulan.
Pantauan di lokasi pada Jumat sore menunjukkan tidak ada lagi kobaran api atau kepulan asap di area timbunan sampah. Namun, petugas tetap melakukan pembasahan di beberapa titik untuk mengantisipasi munculnya kembali titik panas di dalam timbunan. Kepala Bidang Pengendalian Taktis dan Evaluasi Operasi BNPB, Riswandi, menyatakan bahwa pihaknya tetap menyiagakan dukungan personel dan armada udara. "Armada udara kami, bila dibutuhkan oleh Pak Bupati atau kepala daerah lain untuk pemadaman kebakaran hutan dan lahan maupun TPA, kami siap membantu," tuturnya.
Riswandi juga mengingatkan pemerintah daerah yang memiliki TPA untuk meningkatkan langkah mitigasi selama musim kemarau. "Ini juga sebuah pembelajaran buat kita semua yang mempunyai area TPA untuk memitigasi potensi kebakaran. Mulai untuk pembasahan dan lain sebagainya karena cuaca menurut perkiraan BMKG ini sangat panas dan ekstrem," imbuhnya. Kejadian ini menjadi alarm bagi pengelola TPA di seluruh Indonesia untuk segera mengevaluasi sistem pengelolaan sampah dan kesiapan infrastruktur pemadam kebakaran.
Ke depan, pembangunan embung di TPA Jatiwaringin diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko kebakaran. Namun, efektivitasnya akan sangat bergantung pada pemeliharaan rutin dan integrasi dengan sistem peringatan dini. Pertanyaan yang muncul: apakah langkah serupa akan diadopsi oleh daerah lain yang memiliki TPA rawan kebakaran, atau justru insiden ini hanya menjadi catatan kaki tanpa perubahan sistemik?



