Uji Coba Rudal Jarak Jauh China ke Pasifik: Sinyal Kekuatan Nuklir yang Mengkhawatirkan
Baca dalam 60 detik
- China meluncurkan rudal balistik dari kapal selam nuklir sejauh 7.300 km ke Pasifik Selatan, uji coba semacam ini baru kedua kalinya dalam 44 tahun.
- Uji coba ini menandai kemajuan China menuju triad nuklir yang kredibel, memungkinkan serangan balasan dari laut, dan memicu kekhawatiran negara-negara Pasifik serta AS.
- Langkah ini berpotensi mempercepat perlombaan senjata di kawasan dan mendorong negara-negara Pasifik untuk memperkuat kerja sama pertahanan dengan Australia dan Selandia Baru.

China untuk kedua kalinya dalam lebih dari empat dekade meluncurkan rudal balistik jarak jauh ke perairan internasional Pasifik, sebuah langkah yang langsung memicu ketegangan diplomatik dan memperkuat kekhawatiran akan ekspansi persenjataan nuklir Beijing di kawasan Indo-Pasifik. Rudal yang membawa hulu ledak simulasi itu ditembakkan dari kapal selam bertenaga nuklir pada Senin (6 Juli) dan menempuh jarak sekitar 7.300 kilometer sebelum mendarat di Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan, menurut laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Uji coba ini menjadi yang pertama kalinya China secara terbuka menguji rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM) dalam jarak sejauh itu. Sebelumnya, pada 2024, China juga melakukan uji coba rudal balistik antarbenua berbasis darat. Para analis menilai bahwa uji coba ini merupakan langkah signifikan dalam upaya Beijing memperkuat kemampuan pencegahan nuklirnya, terutama di laut. SLBM dirancang sebagai senjata serangan kedua, yang memungkinkan suatu negara melancarkan serangan balasan meskipun telah diserang nuklir terlebih dahulu.
“Pesan utamanya adalah untuk mengingatkan AS bahwa China, yang selama ini menganut postur nuklir minimalis, telah memulai ekspansi besar-besaran kemampuan ini,” ujar Sam Roggeveen, direktur Program Keamanan Internasional di Lowy Institute, seperti dikutip CNA. Ia menambahkan bahwa uji coba serupa kemungkinan akan lebih sering terjadi ke depannya. Lyle Morris dari Asia Society Policy Institute menyebut uji coba ini sebagai “perkembangan besar” karena menunjukkan bahwa pencegahan nuklir China tidak lagi hanya bergantung pada rudal berbasis darat.
Waktu peluncuran yang bertepatan dengan penandatanganan pakta pertahanan Australia-Fiji menuai sorotan. Malcolm Davis dari Australian Strategic Policy Institute menilai bahwa China sengaja memilih hari yang sama untuk menunjukkan ketidaksenangan terhadap penguatan hubungan pertahanan negara-negara Pasifik dengan mitra Barat. “Jika China ingin menghindari kaitan, mereka bisa menunda seminggu, tetapi mereka memilih melakukannya dalam hitungan jam setelah penandatanganan,” ujarnya. Namun, Morris berpendapat bahwa peluncuran semacam itu biasanya direncanakan berbulan-bulan atau bertahun-tahun sebelumnya, sehingga faktor kesiapan kru dan cuaca juga berperan.
Bagi Indonesia, uji coba rudal China ini memiliki implikasi strategis yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Pasifik dan memiliki kepentingan di kawasan, Indonesia perlu mencermati dinamika persaingan kekuatan besar yang semakin intensif. Langkah China ini dapat memicu peningkatan kehadiran militer AS dan sekutunya di Pasifik, yang berpotensi mengubah keseimbangan keamanan regional. Selain itu, uji coba yang melintasi wilayah udara Filipina juga mengingatkan bahwa Indonesia perlu memperkuat sistem pertahanan udara dan maritimnya untuk mengantisipasi kemungkinan pelanggaran serupa di masa depan.
Para analis sepakat bahwa uji coba ini merupakan bagian dari tren modernisasi militer China yang lebih luas. Jacob Stokes dari Center for a New American Security mencatat bahwa China kini memiliki dua dari tiga kaki triad nuklir—darat dan laut—dan kemungkinan akan menguji rudal balistik yang diluncurkan dari udara di masa depan. “China semakin masuk dalam kategori bersama AS dan Rusia sebagai kekuatan nuklir yang sangat mampu,” ujarnya. Sementara itu, Alex Luck, analis angkatan laut yang fokus pada modernisasi militer China, memperkirakan frekuensi uji coba rudal akan meningkat seiring dengan ekspansi armada kapal selam nuklir China.
Reaksi dari negara-negara Pasifik pun mulai terlihat. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengungkapkan bahwa para pemimpin pulau Pasifik sedang mempertimbangkan pernyataan bersama yang “sangat kuat” untuk mengecam uji coba China. Morris menilai bahwa langkah ini justru akan mempererat kerja sama antara sekutu AS di Pasifik dan meningkatkan kekhawatiran terhadap lintasan modernisasi nuklir China. Davis bahkan berpendapat bahwa demonstrasi kekuatan nuklir Beijing dapat mendorong negara-negara Pasifik untuk lebih mendekat ke Australia dan Selandia Baru, bukannya terintimidasi.
Ke depan, uji coba rudal China ini dipastikan akan menjadi agenda utama dalam forum-forum keamanan regional, termasuk ASEAN dan Dialog Keamanan Pasifik. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana China akan melanjutkan ekspansi nuklirnya, dan apakah negara-negara kawasan mampu membangun mekanisme pencegahan yang efektif untuk menjaga stabilitas strategis di Indo-Pasifik.



