Topan Bavi Mendekat, Jepang dan Taiwan Siaga; Longsor di Filipina Tewaskan 10 Orang
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi dengan kecepatan angin 162 km/jam mengancam Kepulauan Sakishima Jepang dan Taiwan, memicu evakuasi massal serta pembatalan ratusan penerbangan.
- Di Filipina, hujan deras yang diperkuat Bavi memicu longsor di Mindanao selatan, menewaskan 10 orang dan menambah daftar korban bencana di kawasan.
- Bavi diperkirakan akan mencapai daratan China timur pada akhir pekan, dengan Wenzhou sebagai target utama, mengancam 10 juta penduduk dan rantai pasok semikonduktor global.

Topan dahsyat Bavi mendekati gugusan pulau terpencil di barat daya Jepang, memicu peringatan dini akan angin kencang, banjir, dan tanah longsor yang berpotensi menjadi salah satu badai paling merusak dalam beberapa tahun terakhir di kawasan tersebut. Di sisi lain, hujan deras yang diperkuat sistem muson barat daya akibat Bavi telah memicu longsor di Pulau Mindanao, Filipina selatan, yang menewaskan sepuluh orang.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Jepang, Bavi diperkirakan akan melintas sangat dekat dengan Kepulauan Sakishima—rantai pulau terpencil di Prefektur Okinawa yang berbatasan dengan Taiwan—pada Sabtu pagi (11/7). Kecepatan angin maksimum berkelanjutan mencapai 162 kilometer per jam, setara dengan topan kategori 2 dalam skala Saffir-Simpson. Warga di Pulau Ishigaki, salah satu pulau utama di gugusan itu, terlihat menempelkan lakban pada jendela dan memasang jaring anti-angin di rumah serta toko mereka.
Dampak Bavi tidak hanya dirasakan di Jepang. Di Taiwan, meskipun topan tidak diperkirakan mendarat, curah hujan ekstrem hingga satu meter diprediksi mengguyur bagian utara dan timur mulai Jumat malam. Pemerintah Taiwan menutup pasar keuangan, meliburkan sebagian wilayah, dan mendirikan pos-pos pembagian karung pasir. Presiden Lai Ching-te melalui unggahan Facebook mengingatkan bahwa meskipun Bavi sedikit melemah menjadi topan sedang, radius badainya tetap besar dan berpotensi membawa angin kencang serta hujan lebat ke banyak area. Lebih dari 2.000 warga telah dievakuasi, terutama dari pesisir timur yang bergunung-gunung, sementara 29.000 personel militer disiagakan untuk bantuan bencana.
Gangguan juga melanda sektor penerbangan dan industri. Maskapai Taiwan membatalkan seluruh penerbangan Sabtu dari Bandara Internasional Taoyuan. Cathay Pacific Airways membatalkan penerbangan akhir pekan antara Hong Kong dan Taiwan, serta beberapa rute ke kota pesisir China timur seperti Hangzhou, Ningbo, dan Fuzhou. Yang menarik perhatian, TSMC—perusahaan pengecoran semikonduktor terbesar di dunia—menunda rilis data penjualan Juni yang dijadwalkan Jumat menjadi Senin. Langkah ini mengindikasikan kekhawatiran akan dampak topan terhadap operasional dan rantai pasok chip global, yang sangat relevan bagi Indonesia sebagai pengimpor perangkat elektronik dan komponen semikonduktor.
Bagi Indonesia, meskipun tidak berada di jalur langsung Bavi, fenomena cuaca ekstrem di Asia Timur patut dicermati. Gangguan pada produksi semikonduktor di Taiwan dan China dapat mempengaruhi pasokan barang elektronik ke pasar Indonesia, yang selama ini bergantung pada impor dari kawasan tersebut. Selain itu, longsor di Filipina mengingatkan akan kerentanan Indonesia terhadap bencana hidrometeorologi, terutama di musim hujan yang diperkuat oleh fenomena iklim global. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem di wilayah Indonesia yang dipengaruhi oleh sirkulasi siklonik di sekitar Filipina.
Memasuki akhir pekan, Bavi diperkirakan akan mencapai daratan China timur di sekitar Kota Wenzhou—kota berpenduduk 10 juta jiwa—pada Sabtu malam atau Minggu pagi. Seorang nelayan setempat, Ye (57), yang sedang memperbaiki kapalnya yang ditarik ke darat, mengatakan semua perahu dari desa-desa terdekat telah kembali ke pelabuhan. “Semua orang bersiap menghadapi topan,” ujarnya. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana kesiapan infrastruktur dan sistem peringatan dini di negara-negara berkembang seperti Indonesia dalam menghadapi ancaman badai tropis yang semakin intensif akibat perubahan iklim?



