Kesepakatan Sponsor €19 Juta Lazio Terancam Buntut Pemblokiran Polymarket di Italia
Baca dalam 60 detik
- Polymarket, platform prediksi pasar, diblokir otoritas Italia karena dianggap sebagai perjudian ilegal, mengancam kontrak sponsor €19 juta dengan Lazio.
- Kesepakatan yang baru diteken April lalu itu mencakup dua musim plus opsi perpanjangan, namun kini terancam batal sebelum berlaku.
- Dampak pemblokiran tidak hanya dirasakan Lazio; Lega Serie A juga terikat kontrak multi-tahun dengan Polymarket untuk pasar AS.

Nasib kontrak sponsor senilai €19 juta (sekitar Rp330 miliar) antara Lazio dan Polymarket menggantung setelah platform prediksi pasar tersebut kembali masuk daftar hitam otoritas Italia. Badan Bea Cukai dan Monopoli Italia (ADM) memblokir akses ke situs Polymarket dengan alasan aktivitasnya tergolong perjudian ilegal yang tidak memiliki izin resmi di negara tersebut.
Kesepakatan yang diteken pada April lalu ini sejatinya menjadi angin segar bagi Lazio yang selama beberapa musim terakhir kesulitan mendapatkan sponsor utama untuk seragam mereka. Kontrak tersebut mencakup dua musim kompetisi, dengan opsi perpanjangan hingga musim 2028-2029. Namun, keputusan ADM yang diumumkan dalam 24 jam terakhir membuat masa depan kerja sama ini berada di ujung tanduk.
Polymarket sebenarnya sudah berseteru dengan regulator Italia sejak tahun lalu. Perusahaan tersebut berargumen bahwa mereka bukanlah situs taruhan tradisional, melainkan pasar prediksi yang mempertemukan pengguna untuk bertukar probabilitas atas berbagai peristiwa. Meskipun sempat memenangkan banding dan tetap beroperasi, otoritas Italia kini kembali memblokir aksesnya, menegaskan bahwa model bisnis Polymarket tetap masuk dalam kategori perjudian publik yang dilarang.
Konsekuensi dari pemblokiran ini tidak hanya berdampak pada Lazio. Lega Serie A, operator liga tertinggi Italia, juga terikat kontrak multi-tahun dengan Polymarket untuk pasar Amerika Serikat. Kesepakatan itu memungkinkan Polymarket menggunakan logo dan merek dagang resmi Serie A di platform mereka. Jika pemblokiran berlanjut, bukan tidak mungkin mitra-mitra lain akan meninjau ulang kerja sama mereka dengan Polymarket.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan ketatnya regulasi perjudian daring di berbagai negara. Meskipun Polymarket mengklaim sebagai platform prediksi, banyak yurisdiksi, termasuk Italia, memandang model bisnis semacam itu sebagai bentuk perjudian. Di Indonesia, aktivitas perjudian dalam bentuk apa pun dilarang keras, dan platform serupa berpotensi menghadapi pemblokiran serupa jika beroperasi tanpa izin. Kasus Lazio-Polymarket juga menunjukkan bahwa klub sepak bola harus lebih cermat dalam memilih mitra sponsor, terutama yang bergerak di sektor keuangan atau teknologi yang kerap berada di area abu-abu regulasi.
Ke depan, Lazio dan Polymarket harus menghadapi ketidakpastian hukum yang berkepanjangan. Apakah Polymarket akan mengajukan banding lagi atau justru memutuskan untuk keluar dari pasar Italia? Sementara itu, Lazio mungkin harus kembali mencari sponsor baru jika kontrak ini benar-benar batal. Pertanyaan besarnya, akankah klub-klub Eropa lainnya mulai lebih berhati-hati dalam menjalin kerja sama dengan platform prediksi berbasis kripto atau blockchain yang regulasinya masih belum seragam di seluruh dunia?



