Chloe Sevigny: Aktris yang Tak Pernah Mendambakan Popularitas
Baca dalam 60 detik
- Chloe Sevigny mengaku sengaja membangun dinding psikologis untuk menjauh dari sorotan publik, meski namanya melejit lewat film ikonik.
- Dalam wawancara terbaru, ia menegaskan bahwa hasratnya menjadi seniman dan aktor tidak sejalan dengan keinginan menjadi selebritas.
- Seri terbarunya, The Five Star Weekend, menampilkan karakter yang mencerminkan pergulatan batinnya antara citra keras dan kepribadian asli yang kocak.

Chloe Sevigny, aktris yang namanya melambung berkat peran dalam Boys Don’t Cry (1999) dan American Psycho (2000), mengaku sengaja membangun tembok pembatas antara dirinya dan popularitas. Dalam wawancara dengan majalah People, perempuan berusia 51 tahun itu mengungkapkan bahwa ketenaran bukanlah tujuan yang ia kejar sejak awal karier.
“Waktu muda, hubungan saya dengan ketenaran sangat rumit. Saya ingin menjadi seniman dan aktor, tapi tidak ingin terkenal,” ujar Sevigny. Ia menambahkan bahwa banyak orang gagal memahami posisinya, sehingga ia merasa perlu memasang “cangkang” pelindung. Sikap ini, menurutnya, kerap disalahartikan sebagai sikap dingin atau sombong.
Fenomena ini sejatinya tidak asing di industri hiburan. Banyak aktor yang harus bergulat antara ambisi artistik dan tuntutan pasar yang menginginkan mereka tampil di muka publik. Di Indonesia, misalnya, sejumlah pemain film independen kerap mengalami dilema serupa: ingin karya mereka diakui, tetapi enggan terjebak dalam pusaran gosip dan eksposur berlebihan. Sevigny, dengan latar belakangnya sebagai ikon mode dan film indie, menjadi contoh bagaimana seorang seniman bisa tetap setia pada prinsip meski berada di tengah sorotan.
Dalam seri The Five Star Weekend, Sevigny memerankan Tatum, seorang perempuan dengan tempurung keras yang mengalami transformasi emosional. “Banyak orang mengira saya seperti itu. Tapi siapa pun yang mengenal saya tahu bahwa saya sebenarnya kikuk dan konyol,” katanya. Ia mengaku tumbuh di New England dan akrab dengan karakter yang keras kepala, sinis, dan cenderung eksklusif—ciri yang ia tuangkan ke dalam perannya.
“Saya tumbuh di New England. Saya merasa kenal dengan orang-orang yang punya cangkang keras, mungkin sedikit pahit, atau sangat terobsesi dengan dunianya sendiri—itu sudut pandang yang sangat tertutup.”
Jennifer Garner, yang menjadi lawan main Sevigny, mengaku gugup saat pertama kali membaca naskah bersama. “Saya sangat suburban secara emosional, kebalikan dari keren urban. Chloe adalah wajah dari keren urban. Dia Doc Martens, saya Brooks sepatu lari,” ujar Garner. Meski demikian, Garner memuji Sevigny sebagai aktris yang “sangat terbuka secara emosional” dan “sepenuhnya hadir” di setiap adegan.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah publik Indonesia, yang terbiasa dengan selebritas yang aktif di media sosial, bisa menerima figur seperti Sevigny yang justru menjauh dari sorotan? Ataukah justru sikap kontra-intuitif inilah yang membuatnya tetap relevan di tengah industri yang haus sensasi?



