Maroko Akui Keunggulan Prancis: 'Kami Kalah dari Tim yang Lebih Baik'
Baca dalam 60 detik
- Prancis menyingkirkan Maroko 2-0 pada perempat final Piala Dunia 2026, mengulangi kemenangan mereka di edisi sebelumnya.
- Pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, mengakui timnya tampil di bawah standar dan kesulitan menembus pertahanan lawan.
- Kekalahan ini menjadi bahan evaluasi bagi Maroko yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal.

Prancis kembali menjadi batu sandungan bagi Maroko di pentas Piala Dunia. Pada laga perempat final yang berlangsung di Stadion Gillette, Foxborough, Kamis (9/7) waktu setempat, Les Bleus menekuk Singa Atlas dengan skor 2-0. Kekalahan ini memupus harapan Maroko yang sebelumnya bermimpi melaju lebih jauh setelah tampil solid di fase grup.
Pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, tidak menampik keunggulan lawan. Dalam konferensi pers usai pertandingan, ia menegaskan bahwa timnya harus menerima kenyataan pahit tersebut. "Kami menghadapi tim yang lebih baik malam ini. Mereka memiliki penguasaan bola yang dominan dan peluang mencetak gol yang lebih banyak," ujar Ouahbi, seperti dikutip dari laporan media setempat.
Sepanjang laga, Maroko tampil inferior. Skuad asuhan Ouahbi kesulitan membangun serangan balik yang efektif, sementara lini tengah Prancis yang digalang oleh pemain-pemain seperti Eduardo Camavinga dan Youssouf Fofana mampu memutus aliran bola ke lini depan Maroko. Statistik mencatat, Maroki hanya melepaskan tiga tembakan ke arah gawang sepanjang 90 menit, bandingkan dengan Prancis yang mencapai 12 percobaan.
Ouahbi menekankan bahwa kekalahan ini harus menjadi pelajaran berharga. "Kami tidak bisa hanya puas dengan pencapaian mencapai perempat final. Kami harus introspeksi dan bekerja lebih keras untuk mengejar ketertinggalan," katanya. Pelatih kelahiran Brussel itu juga mengakui bahwa timnya kehilangan kreativitas di lini tengah, terutama saat menghadapi tekanan tinggi dari pemain Prancis.
Bagi Maroko, kekalahan ini terasa pahit karena mengulangi skenario empat tahun lalu di Qatar, ketika Prancis juga menghentikan langkah mereka di semifinal. Namun, Ouahbi optimistis bahwa masa depan masih cerah. "Kami tahu kami bisa bersaing. Mungkin dalam empat tahun ke depan, kami bisa membalas kekalahan ini," ujarnya merujuk pada Piala Dunia 2030 yang akan digelar di tiga negara, termasuk Maroko.
Di sisi lain, Prancis melaju ke semifinal dan akan berhadapan dengan pemenang laga antara Spanyol dan Belgia. Ouahbi, yang memiliki darah Belgia, secara bercanda mengaku berharap Belgia yang lolos. "Saya lahir di Brussel, jadi secara pribadi saya ingin bertemu Belgia. Tapi siapa pun lawannya, Prancis adalah favorit untuk melaju ke final," katanya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menjadi tontonan menarik karena menunjukkan betapa ketatnya persaingan di level tertinggi. Maroko, yang sempat menjadi kuda hitam di edisi 2022, kini harus kembali ke meja gambar. Sementara Prancis, dengan skuad bertabur bintang, terus menunjukkan konsistensi sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola dunia.
Pertanyaan besarnya: mampukah Maroko bangkit dan menjadi ancaman serius di Piala Dunia 2030 yang akan mereka gelar bersama Spanyol dan Portugal? Atau justru kegagalan ini akan menjadi awal dari kemunduran? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pastiโtim asuhan Ouahbi harus segera berbenah jika ingin bersaing dengan elit sepak bola global.



