NEXTDC Amankan Dana A$2,3 Miliar untuk Ekspansi Pusat Data di Australia
Baca dalam 60 detik
- Operator pusat data Australia NEXTDC menandatangani fasilitas utang senior senilai A$2,3 miliar untuk mendanai belanja modal dan pengembangan pusat data.
- Peningkatan fasilitas sebesar A$500 juta dari komitmen sebelumnya mencerminkan dukungan kuat dari sindikasi bank domestik dan internasional.
- Lonjakan utilisasi kontrak hingga 60% menjadi 667 megawatt menunjukkan permintaan tinggi terhadap kapasitas pusat data, yang berimplikasi pada pertumbuhan infrastruktur digital di kawasan.

Operator pusat data Australia, NEXTDC, mengumumkan penandatanganan fasilitas utang senior baru senilai A$2,3 miliar (setara US$1,6 miliar) pada Jumat lalu. Langkah ini ditempuh untuk mendukung belanja modal yang diperlukan akibat kemenangan kontrak pelanggan baru dan pengembangan pusat data yang sedang berlangsung.
Fasilitas baru ini menandai peningkatan sebesar A$500 juta dari komitmen sebelumnya yang diumumkan pada Mei lalu, yang mencapai A$1,8 miliar. Menurut pernyataan perusahaan, "Peningkatan ini mencerminkan dukungan kuat yang berkelanjutan dari sindikasi bank domestik dan internasional yang luas." Setelah penutupan keuangan, total fasilitas utang senior yang tersedia bagi NEXTDC akan meningkat dari A$6,4 miliar menjadi A$8,7 miliar.
Keputusan ekspansi ini tidak terlepas dari lonjakan permintaan kapasitas pusat data. Pada April lalu, NEXTDC melaporkan bahwa utilisasi kontrak pro-formaโtotal kapasitas daya yang secara resmi ditandatangani oleh pelangganโmelonjak sekitar 60% menjadi 667 megawatt per 31 Maret, dibandingkan dengan akhir Desember. Angka ini mengindikasikan pertumbuhan pesat dalam adopsi layanan cloud dan digitalisasi di Australia dan kawasan Asia Pasifik.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi digital tercepat di Asia Tenggara, Indonesia membutuhkan infrastruktur pusat data yang andal untuk mendukung layanan cloud, e-commerce, dan fintech. Investasi besar-besaran seperti yang dilakukan NEXTDC dapat menjadi sinyal bagi investor dan operator pusat data global untuk melirik pasar Indonesia, terutama dengan hadirnya kebijakan seperti Peraturan Pemerintah No. 71/2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik yang mewajibkan data strategis disimpan di dalam negeri.
Penutupan keuangan fasilitas baru ini dijadwalkan pada pertengahan Juli. Dengan tambahan dana segar, NEXTDC diproyeksikan akan mempercepat pembangunan pusat data baru di kota-kota utama Australia, seperti Sydney, Melbourne, dan Brisbane. Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi NEXTDC sebagai pemain utama di pasar pusat data Australia, tetapi juga meningkatkan daya saing kawasan dalam menarik investasi teknologi global.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah operator pusat data Indonesia, seperti PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) melalui anak usahanya atau pemain swasta, akan mengikuti langkah serupa dengan mengamankan pendanaan besar untuk ekspansi. Dengan pertumbuhan permintaan yang terus meningkat, kebutuhan akan investasi infrastruktur digital di Indonesia menjadi semakin mendesak.



