Bank Jago Buka Suara soal Isu Merger dengan BFI Finance: Tak Ada Informasi
Baca dalam 60 detik
- Bank Jago menegaskan tidak memiliki informasi terkait rencana merger dengan BFI Finance, meskipun spekulasi pasar terus berhembus.
- Taipan Jerry Ng, pemilik saham signifikan di kedua perusahaan, dikabarkan tengah mengevaluasi opsi kepemilikan, termasuk potensi penjualan saham BFI Finance.
- Isu ini memicu pertanyaan tentang masa depan konsolidasi di sektor keuangan digital Indonesia, terutama keterkaitan antara bank digital dan perusahaan pembiayaan.

PT Bank Jago Tbk. (ARTO) akhirnya angkat bicara menanggapi kabar yang beredar mengenai potensi merger dengan PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFIN). Dalam pernyataan resmi yang diterbitkan Jumat (10/7/2026), manajemen Bank Jago menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki informasi yang dapat disampaikan terkait rencana penggabungan usaha tersebut. Sikap hati-hati ini diambil di tengah spekulasi pasar yang semakin kencang, terutama setelah laporan media asing menyebut adanya pertimbangan strategis dari pemegang saham utama kedua perusahaan.
Manajemen Bank Jago, melalui pernyataan yang dikutip dari keterbukaan informasi, menyatakan bahwa perseroan tidak dapat berkomentar mengenai aktivitas atau keputusan pemegang saham. โPerseroan tidak memiliki informasi yang dapat disampaikan terkait merger antara perseroan dengan BFI Finance maupun informasi terkait pendekatan dari institusi keuangan atau investor asing,โ demikian bunyi pernyataan resmi yang ditandatangani oleh manajemen. Bank berbasis teknologi ini juga menegaskan akan terus mematuhi ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku dan akan menyampaikan setiap informasi material sesuai peraturan.
Meski membantah adanya rencana merger, Bank Jago mengakui bahwa kolaborasi dengan BFI Finance merupakan bagian dari kerja sama bisnis strategis yang telah berjalan. Kerja sama ini, menurut manajemen, bertujuan untuk memberikan solusi keuangan yang relevan kepada nasabah dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Namun, pernyataan tersebut tidak merinci lebih lanjut bentuk kolaborasi yang dimaksud, sehingga menimbulkan tanda tanya di kalangan analis mengenai sejauh mana keterkaitan operasional kedua entitas.
Isu merger ini pertama kali mencuat setelah laporan Bloomberg menyebutkan bahwa kelompok investor yang dipimpin oleh taipan Jerry Ng sedang mempertimbangkan berbagai opsi terkait kepemilikan saham mereka di BFI Finance dan Bank Jago. Jerry Ng, yang dikenal sebagai salah satu pemain kunci di industri keuangan digital Indonesia, memiliki kendali signifikan di kedua perusahaan. Melalui Trinugraha Capital & Co, ia menguasai sekitar 51% saham BFI Finance, sementara kepemilikannya di Bank Jago mencapai sekitar 30%. Langkah strategis apa pun yang diambil oleh Jerry Ng pasti akan berdampak besar pada struktur pasar keuangan nasional.
Kabar ini juga diperkuat oleh laporan Mergermarket pada April 2026 yang menyebutkan bahwa pemegang saham pengendali BFI Finance tengah menjajaki penjualan sebagian saham. Goldman Sachs disebut-sebut telah ditunjuk sebagai penasihat dalam proses tersebut. Investor lain di Trinugraha Capital, seperti Northstar Group dan taipan pertambangan Garibaldi "Boy" Thohir, turut menjadi sorotan. Sementara itu, di Bank Jago, pemegang saham lainnya termasuk dana kekayaan negara Singapura GIC Pte dan Patrick Walujo, salah satu pendiri Northstar.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, isu ini membuka diskusi tentang arah konsolidasi di sektor keuangan digital. Bank Jago, yang dikenal sebagai bank digital dengan basis nasabah muda, dan BFI Finance, perusahaan pembiayaan yang mapan, memiliki sinergi potensial dalam hal layanan kredit dan teknologi. Namun, tanpa konfirmasi resmi, spekulasi tetap menjadi faktor risiko yang perlu dicermati investor. Analis menilai bahwa keputusan akhir ada di tangan pemegang saham utama, terutama Jerry Ng, yang harus menyeimbangkan kepentingan bisnis jangka panjang dengan tekanan pasar.
Ke depan, publik akan mencermati langkah selanjutnya dari Jerry Ng dan para pemegang saham lainnya. Apakah akan terjadi konsolidasi penuh, penjualan saham, atau sekadar penataan ulang portofolio? Jawabannya mungkin baru akan terungkap setelah proses due diligence dan negosiasi internal selesai. Yang jelas, gejolak di pasar saham kedua emiten ini patut diwaspadai, mengingat bobot keduanya di sektor keuangan Tanah Air.



