Nikkei Melonjak 1,2% Didorong Saham Chip dan Meredanya Ketegangan Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei ditutup menguat 813,88 poin ke level 68.557,73, didorong aksi beli saham semikonduktor dan AI yang mengikuti kenaikan Wall Street.
- Pernyataan pejabat Jepang mengenai independensi BOJ dan dorongan investasi dana pensiun ke aset domestik mendorong penguatan yen ke kisaran 161 yen per dolar AS.
- Optimisme terhadap kelanjutan negosiasi AS-Iran menekan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang, mendukung reli pasar.

Bursa saham Tokyo ditutup di zona hijau pada Jumat (10/7/2026) dengan kenaikan signifikan, dipimpin oleh saham-saham semikonduktor yang ikut melesat setelah reli di Wall Street. Sentimen positif juga datang dari meredanya kekhawatiran geopolitik Timur Tengah yang mendorong penurunan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang.
Indeks Nikkei 225 melonjak 813,88 poin atau 1,20% ke level 68.557,73, sementara indeks Topix yang lebih luas naik 15,71 poin atau 0,39% menjadi 4.036,08. Di Papan Utama Prime Market, sektor yang memimpin penguatan adalah produsen logam, logam non-besi, serta informasi dan komunikasi.
Pasar saham Jepang mendapat angin segar dari pernyataan Menteri Kebijakan Ekonomi dan Fiskal Minoru Kiuchi yang menegaskan independensi Bank of Japan (BOJ) harus dihormati. Komentar ini meredakan kekhawatiran investor akan tekanan politik terhadap upaya BOJ menaikkan suku bunga acuan. Akibatnya, dolar AS sempat melemah ke kisaran 161 yen di perdagangan Tokyo.
Penguatan yen juga didorong oleh laporan bahwa Menteri Keuangan Satsuki Katayama berencana mendorong dana pensiun, termasuk Government Pension Investment Fund (GPIF), untuk meningkatkan investasi di aset keuangan domestik. Langkah ini dipandang dapat memperkuat pasar modal Jepang dalam jangka panjang.
Dari sisi eksternal, investor menyambut positif pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan Iran terbuka untuk mencapai kesepakatan. Ekspektasi kelanjutan negosiasi kedua negara menekan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) bertenor 10 tahun. Menurut analis, kondisi ini menciptakan lingkungan yang mendukung bagi saham-saham teknologi dan AI yang sensitif terhadap suku bunga.
"Selama ekspektasi negosiasi AS-Iran berlanjut, penurunan suku bunga dan optimisme terhadap ekspansi pasar AI seharusnya dapat mempertahankan tren kenaikan," ujar Wataru Akiyama, strategist di Nomura Securities.
Meski demikian, tekanan jual muncul pada sesi sore akibat aksi jual exchange-traded funds (ETF) untuk mendanai distribusi dividen. Hal ini membatasi kenaikan lebih lanjut, namun secara umum pasar tetap optimistis.
Bagi investor Indonesia, pergerakan bursa Tokyo menjadi indikator penting mengingat keterkaitan rantai pasok semikonduktor dengan kawasan Asia. Kenaikan saham chip Jepang kerap diikuti oleh bursa regional, termasuk sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia. Selain itu, pelemahan dolar terhadap yen dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah secara tidak langsung melalui pergerakan yen sebagai mata uang safe haven.
Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran dan kebijakan suku bunga BOJ. Jika dialog kedua negara terus berlanjut, tekanan inflasi global dapat mereda, memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan akomodatif. Namun, risiko kegagalan negosiasi tetap membayangi dan dapat memicu volatilitas harga minyak serta pergeseran aliran modal.



