Kristin Cavallari: Anak Terbang Ekonomi, Ibu Kelas Satu, Demi Pelajaran Hidup
Baca dalam 60 detik
- Selebriti AS Kristin Cavallari menerapkan aturan ketat: anak-anaknya terbang di kelas ekonomi sementara ia duduk di kelas satu, sebagai bagian dari pendidikan finansial.
- Cavallari mengajarkan nilai kerja keras dengan mendorong anak-anaknya memulai usaha kecil, seperti mencuci jendela dan tempat sampah, untuk mendapatkan uang saku.
- Kebijakan ini menuai perdebatan di media sosial, namun Cavallari yakin kebiasaan kecil seperti ini membentuk karakter anak dalam jangka panjang.

Kristin Cavallari, desainer mode dan pengusaha asal Amerika Serikat, kembali menjadi sorotan setelah mengungkapkan kebijakan keluarganya yang kontroversial: saat bepergian dengan pesawat, ia duduk di kelas satu sementara ketiga anaknya—Camden (13), Jaxon (12), dan Saylor (10)—ditempatkan di kelas ekonomi. Baginya, ini bukan sekadar penghematan, melainkan pelajaran hidup yang berharga.
Dalam wawancara di podcast Aspire with Emma Grede, Cavallari menjelaskan bahwa anak-anaknya tidak mendapatkan segala sesuatu dengan mudah. "Mereka harus bekerja untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan," ujarnya. Keputusan memisahkan tempat duduk di pesawat, menurutnya, adalah salah satu cara kecil namun signifikan untuk menanamkan nilai kerja keras. "Saya bilang, 'Selamat tinggal, bersenang-senanglah di belakang.' Itu baik untuk mereka," tambahnya.
Pendekatan ini tidak berhenti di bandara. Cavallari juga mendorong anak-anaknya untuk memulai usaha kecil-kecilan. Musim panas lalu, kedua putranya membuka jasa cuci jendela dan tempat sampah di lingkungan sekitar. "Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka harus pergi dan mewujudkannya," kata Cavallari. Ia sadar bahwa anak-anaknya tumbuh dalam kemewahan, sehingga penting untuk mengajarkan mereka nilai uang dan usaha sejak dini.
Di Indonesia, gaya pengasuhan seperti ini mungkin terdengar asing, terutama di kalangan keluarga berada yang cenderung memberikan kenyamanan penuh kepada anak. Namun, psikolog anak dan keluarga menilai bahwa mengajarkan anak tentang konsekuensi dan usaha adalah hal yang universal. "Anak perlu belajar bahwa privilege bukanlah hak, melainkan hasil dari kerja keras. Ini bisa dimulai dari hal sederhana seperti membedakan kebutuhan dan keinginan," ujar seorang psikolog perkembangan yang enggan disebut namanya.
Kontroversi lain muncul saat Cavallari mengaku mulai membatasi pembicaraan tentang kehidupan seksnya di podcast setelah anak-anaknya mendengar dan mendapat komentar dari teman-teman mereka. "Mereka memberi tahu saya bahwa teman-teman mereka melihat saya bermain minum-minuman sambil membicarakan hal seksual. Itu membuat saya sadar harus lebih berhati-hati," ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ia tegas dalam soal uang, ia juga peka terhadap dampak publikasi kehidupan pribadi terhadap anak-anaknya.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah metode Cavallari ini akan diadopsi oleh lebih banyak orang tua, terutama di era di mana anak-anak semakin terpapar gaya hidup mewah melalui media sosial. Atau justru akan menuai kritik karena dianggap terlalu keras? Yang jelas, Cavallari telah memicu diskusi penting tentang keseimbangan antara memberikan kenyamanan dan mengajarkan tanggung jawab pada generasi penerus.



