China Sukses Mendaratkan Roket Reusable, Tantang Dominasi AS
Baca dalam 60 detik
- Long March 10B milik China berhasil mendarat vertikal di platform laut, menandai terobosan besar dalam teknologi roket reusable.
- Keberhasilan ini membuka peluang China menyaingi SpaceX dan Blue Origin, dengan potensi menekan biaya peluncuran satelit secara drastis.
- Bagi Indonesia, persaingan ini bisa menurunkan tarif peluncuran satelit dan mempercepat akses teknologi antariksa.

China mencatat sejarah baru dalam eksplorasi antariksa setelah roket reusable pertamanya, Long March 10B, berhasil mendarat vertikal di atas platform terapung di lepas pantai Hainan. Keberhasilan ini menempatkan China dalam posisi untuk menantang dominasi Amerika Serikat yang selama ini dipegang oleh SpaceX dan Blue Origin.
Roket yang dikembangkan oleh China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) itu lepas landas pada Jumat (12/5) pukul 12.15 waktu setempat. Sekitar enam menit setelah memisahkan diri dari tahap atas, booster roket kembali ke Bumi secara vertikal dan berhasil diamankan di platform laut. Metode pendaratan yang digunakan berbeda dengan Falcon 9 milik SpaceX: Long March 10B menggunakan "kait pendarat" yang menangkap jaring di platform, bukan mendarat otonom di darat atau kapal drone.
Keberhasilan ini menjadi tonggak penting karena roket konvensional selama ini bersifat sekali pakaiโsetiap bagiannya terbuang dan hancur saat peluncuran, membuat biaya misi antariksa sangat tinggi. Dengan teknologi reusable, biaya peluncuran satelit dan eksplorasi ruang angkasa bisa ditekan secara signifikan. Sebagai perbandingan, Falcon 9 milik SpaceX kini mampu meluncur sekitar 150 kali setahun dengan booster yang dapat digunakan puluhan kali.
Bagi Indonesia, persaingan teknologi roket reusable ini membawa angin segar. Saat ini, biaya peluncuran satelit masih menjadi kendala utama bagi negara berkembang untuk mengakses layanan antariksa. Jika China berhasil mengomersialkan Long March 10B dengan harga kompetitif, tarif peluncuran satelit bisa turun drastis, membuka peluang bagi Indonesia untuk lebih aktif dalam penginderaan jauh, telekomunikasi, dan riset antariksa. Menurut analis antariksa dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini untuk menjalin kerja sama peluncuran satelit dengan China, terutama untuk satelit observasi bumi dan komunikasi.
Namun, tantangan teknis masih ada. Metode pendaratan dengan kait dan jaring yang digunakan China dinilai kurang fleksibel dibandingkan pendaratan otonom ala SpaceX. Meski demikian, CASC optimistis teknologi ini akan terus disempurnakan. Uji coba sebelumnya pada Februari lalu dengan Long March 10A berhasil melakukan penurunan terkendali dan mendarat di dekat platform pemulihan, menunjukkan progres yang konsisten.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat China dapat memproduksi roket reusable secara massal dan menawarkan harga yang mampu bersaing dengan SpaceX. Jika berhasil, peta persaingan industri antariksa global akan berubah drastis, dan negara-negara seperti Indonesia bisa menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan.



