800 Lonceng Angin Gaya Edo Hiasi Festival Musim Panas di Kuil Jepang
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 800 lonceng angin khas zaman Edo dipasang di Kuil Kameyama Hachimangu, Shimonoseki, dalam festival musim panas yang keempat.
- Tiga koridor tematik—Pelangi, Laut, dan Ombak—menampilkan lonceng berwarna-warni yang menciptakan ilusi kesejukan di tengah cuaca panas.
- Lonceng biru 'Kanmon Blue' seharga 3.000 yen menjadi favorit pengunjung; festival gratis berlangsung hingga 6 September.

Sebanyak 800 lonceng angin bening bergaya Edo bergemerincing merdu di pelataran Kuil Kameyama Hachimangu, Shimonoseki, Jepang barat, mengubah kawasan tersebut menjadi simfoni musim panas yang menyegarkan. Festival bertajuk 'Fuurin Matsuri' atau Festival Lonceng Angin ini memasuki edisi keempat dan telah menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Penyelenggara membagi area pameran menjadi tiga koridor tematik. 'Koridor Pelangi' menampilkan lonceng dalam tujuh warna berbeda, sementara 'Koridor Laut' didominasi nuansa biru yang merepresentasikan samudra. 'Koridor Ombak' memadukan lonceng biru, biru muda, dan bening yang bergerak seirama angin, menciptakan efek visual seperti gelombang laut. Pengunjung tampak menengadah menikmati suara dan pemandangan, merasakan sensasi sejuk meski di tengah terik musim panas.
Kepala Pendeta Kuil Kameyama Hachimangu, Nobuhiko Takenaka (50), berharap festival ini menjadi sarana pengunjung untuk merasakan kesejukan hati dan fisik. "Saya ingin orang-orang datang ke kuil, mendengar suara lonceng angin, dan merasakan kesejukan," ujarnya. Festival yang digelar di distrik Nakanocho ini juga menjadi ajang promosi budaya lokal dan pariwisata Shimonoseki.
Salah satu daya tarik utama adalah lonceng biru bernama 'Kanmon Blue' yang dibanderol 3.000 yen (sekitar 18 dolar AS atau Rp350.000). Lonceng ini sangat populer di kalangan pengunjung, dan Takenaka merekomendasikan untuk memotretnya dengan latar Selat Kanmon yang indah. Bagi wisatawan Indonesia yang tengah merencanakan liburan ke Jepang, festival ini bisa menjadi alternatif destinasi unik di luar jalur wisata mainstream seperti Tokyo atau Osaka.
Fenomena festival lonceng angin di Jepang sebenarnya bukan hal baru, namun edisi kali ini menarik perhatian karena skala dan konsep tematiknya yang matang. Di Indonesia, tradisi serupa juga mulai berkembang di beberapa kota, seperti festival lampion atau pasar malam bertema musiman. Namun, sentuhan budaya Shinto dan estetika Edo yang kental membuat Fuurin Matsuri memiliki nilai eksklusivitas tersendiri. Ke depannya, apakah tren festival tematik seperti ini akan menginspirasi destinasi wisata di Indonesia untuk menghadirkan pengalaman sensorik serupa? Mengingat musim kemarau di Indonesia juga identik dengan cuaca panas, ide 'kesejukan visual' lewat instalasi seni bisa menjadi konsep yang menarik untuk diadopsi.
Festival ini terbuka untuk umum tanpa biaya masuk, menjadikannya pilihan wisata hemat yang tetap berkesan. Bagi pembaca di Indonesia yang ingin merasakan atmosfer musim panas Jepang tanpa harus jauh-jauh ke Tokyo, Shimonoseki menawarkan pengalaman autentik yang tak kalah menarik. Pertanyaannya, akankah konsep serupa muncul di Tanah Air dengan sentuhan lokal?



