Starlux Airlines Hadirkan Pesawat Bergaya Perak Karya Seniman Jepang Sorayama
Baca dalam 60 detik
- Maskapai Taiwan Starlux Airlines meluncurkan Airbus A350-1000 dengan livery perak hasil kolaborasi bersama ilustrator Jepang Hajime Sorayama, yang dikenal lewat desain robot anjing Aibo.
- Pesawat tersebut akan memulai penerbangan komersial perdana pada Oktober 2026, dengan rute awal menuju Tokyo Narita.
- Kolaborasi ini menandai tren baru maskapai di Asia yang memadukan seni kontemporer dengan identitas merek untuk menarik pasar premium.

Maskapai asal Taiwan, Starlux Airlines, resmi memperkenalkan pesawat Airbus A350-1000 dengan livery perak mencolok hasil rancangan ilustrator Jepang Hajime Sorayama. Sorayama dikenal luas sebagai desainer di balik robot anjing pintar Aibo milik Sony Group Corporation. Peluncuran dilakukan di Bandara Internasional Taiwan Taoyuan pada Kamis (10/7/2026) dan langsung menyita perhatian dunia penerbangan.
Pesawat berbadan lebar itu rencananya akan memulai penerbangan komersial reguler pada Oktober mendatang. Namun, sebelum resmi beroperasi, pesawat ini dijadwalkan terbang perdana mengangkut penumpang pada Minggu ini menuju Bandara Narita di Tokyo. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Starlux untuk memperkuat citra sebagai maskapai premium yang mengedepankan nilai estetika dan inovasi.
Dalam sambutan video yang diputar saat acara, Sorayama mengaku bahwa proyek ini merupakan karya terbesar yang pernah ia buat. Ia merasa terhormat bisa terlibat dan menyebut pengerjaannya terasa seperti hobi ketimbang pekerjaan. "Saya sangat menikmatinya dan berharap kalian juga menikmatinya," ujar Sorayama. Pernyataan ini mencerminkan pendekatan artistik yang santai namun tetap serius dalam mengeksekusi desain berskala besar.
Ketua Starlux Airlines, Chang Kuo-wei, menambahkan bahwa Sorayama memiliki kegemaran menciptakan hal-hal yang benar-benar berbeda dari yang lain. Filosofi itu, menurut Chang, sejalan dengan visi perusahaannya. "Kami bangga melakukan apa yang orang lain tidak berani coba, belum pernah coba, dan tidak bisa lakukan," tegas Chang. Kolaborasi ini menjadi simbol keberanian Starlux dalam mendobrak pakem industri penerbangan yang cenderung konservatif.
"Filosofi Sorayama sejalan dengan kamiโbangga melakukan apa yang orang lain tidak berani, belum pernah, dan tidak bisa lakukan." โ Chang Kuo-wei, Ketua Starlux Airlines
Bagi pasar Indonesia, kehadiran pesawat bergaya seni ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang gemar berburu pengalaman unik. Meski Starlux belum memiliki rute langsung ke Indonesia, kolaborasi seni dalam industri penerbangan mulai menjadi tren global. Maskapai seperti AirAsia dan Singapore Airlines juga pernah menggandeng seniman untuk menghias pesawat mereka. Tren ini menunjukkan bahwa identitas visual pesawat bukan lagi sekadar cat, melainkan alat pemasaran yang efektif untuk membedakan diri di tengah persaingan ketat.
Ke depan, Starlux diperkirakan akan terus memperluas jaringan rutenya, termasuk kemungkinan ke Asia Tenggara. Dengan armada yang didesain artistik dan layanan premium, maskapai ini berpotensi menjadi pesaing serius bagi maskapai full-service lainnya di kawasan. Pertanyaannya, apakah maskapai lain akan mengikuti jejak Starlux dalam mengintegrasikan seni kontemporer ke dalam identitas merek mereka? Atau justru Starlux akan tetap menjadi pionir yang sulit ditiru?



