Hoarding Disorder: Bukan Sekadar Malas Merapikan, tapi Luka Psikologis yang Terabaikan
Baca dalam 60 detik
- Gangguan menimbun barang (hoarding disorder) memengaruhi 2-6% populasi global, namun sering disalahartikan sebagai kebiasaan buruk atau kurang disiplin.
- Di balik tumpukan barang, terdapat mekanisme koping terhadap trauma, kehilangan, atau kecemasan—bukan sekadar masalah kerapian.
- Ahli menekankan pentingnya pendekatan empatik dan komunikasi, bukan pembersihan paksa, untuk membantu penderita keluar dari siklus menimbun.

Di balik pintu rumah yang tertutup rapat, tumpukan kotak, perabot usang, dan barang-barang tak terpakai bisa mengubah hunian menjadi labirin yang menyempitkan ruang gerak. Bagi sebagian orang, kondisi ini bukanlah sekadar masalah kebersihan atau kemalasan—melainkan manifestasi dari gangguan psikologis yang belum banyak dipahami, yaitu hoarding disorder atau gangguan menimbun.
Gangguan ini secara resmi diakui dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) sebagai kondisi mental yang ditandai dengan kesulitan ekstrem untuk membuang barang, terlepas dari nilai sebenarnya. Menurut International OCD Foundation, sekitar 2% hingga 6% populasi global diperkirakan mengalaminya. Namun, kesadaran akan gangguan ini di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara masih sangat terbatas.
Psikolog klinis Kelly Chan dari Soul Mechanics Therapy mengungkapkan bahwa dalam praktiknya, pasien jarang datang dengan keluhan utama hoarding. “Mereka lebih sering mencari bantuan untuk depresi, kecemasan, atau stres berat. Baru setelah kami menggali lebih dalam, mereka mengakui perilaku menimbun sebagai mekanisme koping,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa hoarding sering kali menjadi gejala permukaan dari luka emosional yang lebih dalam.
Dosen psikologi Universitas Sunway, Dr. Hiran Shanake Perera, menambahkan bahwa budaya populer memang mulai menyoroti isu ini, tetapi riset ilmiah masih minim. “Banyak area abu-abu yang membuat miskonsepsi terus bertahan,” katanya. Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menyamakan hoarding dengan sekadar berantakan. Padahal, orang yang berantakan masih bisa membersihkan dan merasa lega, sementara penderita hoarding mengalami tekanan psikologis yang signifikan saat diminta membuang barang.
Kisah Farah (bukan nama sebenarnya) menggambarkan betapa kompleksnya gangguan ini. Ibunya, yang dulu memiliki karier mapan, mulai menimbun berbagai barang—dari parfum, peralatan rumah tangga, hingga lemari kayu—hingga rumah nyaris tak bisa dihuni. “Hanya ada jalur kecil untuk berjalan. Hampir semua ruangan penuh, dan lemari-lemari itu mulai lapuk,” kenang Farah. Ketika ia meminta ibunya membuang barang, sang ibu marah dan mengklaim barang-barang itu masih berguna suatu hari nanti.
Perera menjelaskan bahwa penderita hoarding sering kali memiliki ikatan emosional yang kuat dengan barang-barangnya. “Benda itu mungkin tampak tidak berharga bagi orang lain, tetapi bagi mereka, benda itu mewakili kenangan, rasa aman, atau identitas,” katanya. Hal ini diperkuat oleh pengalaman Meera (nama samaran), yang kehilangan kedua orang tuanya di usia remaja. Ketika kembali ke rumah keluarga, ia merasa membuang barang-barang peninggalan orang tuanya sama saja dengan mengkhianati kenangan mereka. “Jika saya membuang semuanya, rasanya seperti saya tidak peduli lagi,” ujarnya.
Meera kemudian mulai menambah tumpukan dengan barang-barang yang dibelinya sendiri sebagai pelarian dari kesedihan. “Saya membeli banyak hal yang tidak saya butuhkan. Barang-barang itu hanya menumpuk di sudut kamar, termasuk kardus dan bungkusnya,” katanya. Siklus ini berulang: semakin terpuruk secara emosional, semakin banyak barang yang dikumpulkan, dan semakin sulit untuk keluar dari lingkaran tersebut.
Ahli memperingatkan bahwa upaya keluarga untuk membersihkan rumah secara diam-diam justru bisa kontraproduktif. “Ketika barang dibuang tanpa izin, rumah mungkin tampak rapi sementara, tetapi kepercayaan rusak dan penderita merasa kehilangan kendali. Hal ini justru memicu mereka menimbun lebih banyak lagi,” jelas Chan. Pendekatan yang lebih efektif adalah memulai dengan komunikasi. “Cobalah memahami mengapa mereka mempertahankan barang-barang itu. Jika karena takut kehabisan, beri jaminan bahwa barang bisa diganti. Tanggapi emosinya, bukan sekadar perilakunya,” tambahnya.
Bagi Farah, titik balik terjadi ketika seorang pelanggan memberikan ulasan negatif tentang kondisi rumahnya, bukan tentang makanan yang ia jual. “Saya menangis dan menjelaskan pada ibu bahwa ini memengaruhi mata pencaharian saya. Akhirnya, ia mulai mau melepaskan barang sedikit demi sedikit,” cerita Farah. Proses pembersihan yang dimulai awal tahun ini berjalan lambat, tetapi membawa perubahan besar. Meski demikian, rasa bersalah masih menghantuinya. “Saya tahu barang-barang itu berarti baginya, tapi saya harus memprioritaskan kesehatan dan keselamatan kami.”
Meera juga menjalani proses serupa dengan bantuan bibinya. Setelah membaca tentang hoarding, ia menyadari bahwa kondisinya bukan sekadar “tidak bisa membersihkan”. “Selama seminggu, kami memilah barang, menyimpan yang sentimental, dan membuang sisanya. Rumah yang saya tinggali seumur hidup tidak pernah terlihat serapi ini,” katanya. Meski kini lebih sehat, dorongan untuk menimbun masih muncul. “Saya masih berpikir, ‘Mungkin suatu hari nanti saya butuh ini.’ Tapi sekarang saya lebih sadar. Saya bertanya pada diri sendiri: apakah saya menyimpannya karena benar-benar perlu, atau karena takut kehilangan kenangan?”
Perera menyarankan pendekatan bertahap: mulai dari satu area kecil, satu per satu, sambil terus berkomunikasi. Jika gangguan berlanjut, terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu membangun pola pikir dan strategi koping yang lebih sehat. Farah dan Meera berharap kisah mereka bisa mendorong empati masyarakat. “Hoarding sulit dipahami sampai Anda mengalaminya sendiri. Saya berharap orang-orang lebih berbelas kasih dan ingat bahwa ada lebih banyak hal di balik tumpukan barang daripada yang terlihat,” tutup Farah.
Pertanyaan yang kini mengemuka: seberapa siap sistem kesehatan mental Indonesia untuk menjangkau penderita hoarding yang tersembunyi di balik pintu rumah mereka? Dengan minimnya riset dan stigma yang masih kuat, jalan menuju pemahaman dan penanganan yang lebih baik masih panjang.



