Ispace Gandeng SpaceX untuk Layanan Kargo Bulan Murah: Bisakah Bersaing?
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan antariksa Jepang ispace membeli kapasitas 500 kg di roket Starship milik SpaceX seharga US$50 juta untuk misi pendaratan di Bulan mulai 2030.
- Layanan baru 'lunar access integrator' ini menawarkan tumpangan bersama (ride-sharing) bagi muatan kecil, melengkapi pengembangan pendarat khusus ispace.
- Kemitraan ini membuka peluang bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk mengirim muatan ke Bulan dengan biaya lebih terjangkau.

Perusahaan transportasi Bulan asal Jepang, ispace, mengumumkan langkah baru untuk memangkas biaya pengiriman kargo ke satelit Bumi. Mereka akan memanfaatkan roket raksasa Starship milik SpaceX milik Elon Musk sebagai 'bus' yang membawa muatan dari berbagai klien secara bersamaan.
Dalam skema yang disebut 'lunar access integrator', ispace telah membeli kapasitas 500 kilogram di atas Starship seharga US$50 juta (sekitar Rp810 miliar). Rencananya, misi pendaratan di Bulan ini bisa terealisasi paling cepat tahun 2030. ispace juga akan membangun kendaraan permukaan Bulan yang mampu menampung muatan dari pelanggan di seluruh dunia.
Wakil Presiden Eksekutif ispace, Hideari Kamiya, menjelaskan bahwa layanan baru ini ibarat 'bus' ke Bulan, melengkapi pendarat khusus yang mereka kembangkan sendiriโyang disebut sebagai 'taksi'. Dengan model ini, pelanggan yang tidak mampu menyewa seluruh roket dapat menumpang dengan biaya lebih rendah. Sebelumnya, ispace dua kali gagal mendarat di Bulan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX pada 2023 dan 2025.
Kemitraan dengan SpaceX disebut akan mempercepat pertumbuhan ispace di pasar infrastruktur Bulan secara eksponensial. CEO ispace Takeshi Hakamada mengungkapkan bahwa ide bisnis integrator ini justru datang dari SpaceX. "Mereka mendekati kami pertama kali," ujarnya. SpaceX sendiri menyambut baik perluasan kerja sama ini. Stephanie Bednarek, Wakil Presiden Penjualan Komersial SpaceX, menyatakan bahwa layanan integrasi ispace membuka jalan bagi muatan kecil untuk mendapatkan tumpangan ke Bulan.
Kerja sama ini tidak bersifat eksklusif. NASA juga berencana menggunakan Starship untuk pendaratan perdana astronot di Bulan pada 2028 melalui program Artemis. Perusahaan rintisan penjelajah Bulan asal AS, Astrolab, juga telah memesan ruang di penerbangan Starship mendatang. Hakamada optimistis, meskipun mungkin ada perusahaan lain yang masuk ke pasar ini, hanya sedikit yang mampu mengintegrasikan kargo dan tetap menyediakan layanan setelah mendarat di Bulan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang partisipasi dalam misi antariksa komersial. Dengan biaya yang lebih terjangkau, lembaga riset atau perusahaan dalam negeri dapat mengirimkan muatan eksperimen ke Bulan. Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia yang tengah mengembangkan program antariksa nasional, termasuk rencana pengiriman astronot ke luar angkasa. Namun, tantangan regulasi dan pendanaan masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera diatasi.
Ke depan, persaingan layanan kargo Bulan diprediksi semakin ketat. Dengan hadirnya pemain seperti ispace yang menawarkan model ride-sharing, pertanyaannya adalah: akankah harga turun cukup drastis untuk memicu gelombang baru eksplorasi komersial, atau justru hanya dinikmati segelintir negara maju?



