Pemerintah India Restui Patungan Dixon-Vivo, Pabrik Ponsel Baru Segera Beroperasi
Baca dalam 60 detik
- Dixon Technologies dan Vivo Mobile India mendapat izin pemerintah India untuk mendirikan perusahaan patungan produksi ponsel pintar.
- Kesepakatan ini menandai pelonggaran pengawasan ketat terhadap investasi perusahaan China di India, yang sebelumnya kerap terhambat regulasi perbatasan.
- Pabrik baru ini diproyeksikan tidak hanya memenuhi pesanan Vivo, tetapi juga melayani merek lain sebagai produsen kontrak.

Pemerintah India secara resmi menyetujui rencana pendirian perusahaan patungan antara Dixon Technologies, perusahaan elektronik asal India, dengan Vivo Mobile India, produsen ponsel pintar asal China. Izin ini membuka jalan bagi pembangunan pabrik manufaktur ponsel pintar di India yang akan memproduksi perangkat untuk berbagai merek.
Dalam struktur kepemilikan, Dixon Technologies memegang 51 persen saham, sementara Vivo Mobile India menguasai 49 persen. Langkah ini dianggap strategis karena sebelumnya investasi besar dari perusahaan China di India kerap menghadapi hambatan regulasi yang ketat. Aturan yang berlaku mewajibkan investasi dari negara-negara yang berbagi perbatasan darat dengan Indiaโtermasuk Chinaโuntuk mendapatkan persetujuan tingkat tinggi dari pemerintah pusat.
Dengan adanya restu ini, Dixon dan Vivo dapat segera merealisasikan pabrik yang akan beroperasi sebagai original equipment manufacturer (OEM). Artinya, pabrik tersebut tidak hanya akan memproduksi ponsel pintar untuk Vivo, tetapi juga dapat menerima pesanan dari merek lain. Dixon menyatakan bahwa perusahaan patungan ini akan memproduksi ponsel pintar dan perangkat elektronik lainnya di India.
Keputusan ini menandai perubahan iklim investasi di India, yang selama beberapa tahun terakhir memperketat pengawasan terhadap perusahaan China pascainsiden perbatasan tahun 2020. Banyak investasi dari China tertunda atau dibatalkan karena regulasi yang rumit. Namun, dengan kebutuhan India untuk memperkuat manufaktur dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor, terutama dari China, pemerintah mulai melonggarkan beberapa hambatan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi catatan penting. Indonesia juga tengah gencar mendorong hilirisasi industri elektronik dan ponsel pintar melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Keberhasilan India menarik investasi China dengan skema joint venture yang dikendalikan lokal bisa menjadi model yang patut dicermati. Apalagi, Indonesia juga memiliki aturan ketat terkait investasi asing di sektor strategis.
Menurut analis industri, langkah Dixon-Vivo ini akan memperkuat posisi India sebagai pusat manufaktur ponsel global, bersaing dengan Vietnam dan Indonesia. Dengan kapasitas produksi yang besar, India berpotensi menjadi basis ekspor ponsel ke pasar Asia dan Afrika. Namun, tantangan seperti birokrasi dan infrastruktur masih perlu diatasi.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Indonesia akan mengambil langkah serupa untuk menarik investasi China di sektor elektronik dengan skema yang lebih fleksibel, atau justru mempertahankan kebijakan protektif yang ada? Jawabannya akan menentukan daya saing industri manufaktur nasional dalam beberapa tahun ke depan.



