Pemimpin Partai Oposisi Jepang Reiwa Shinsengumi Mundur Akibat Kasus Ngebut
Baca dalam 60 detik
- Taro Yamamoto mengundurkan diri sebagai ketua partai setelah didenda 90.000 yen karena melaju 149 km/jam di jalan tol.
- Pemilihan ketua baru dijadwalkan 31 Juli, dengan kemungkinan perubahan nama partai.
- Yamamoto, yang juga berjuang melawan kanker sumsum tulang, menyatakan tidak akan kembali menjadi anggota parlemen.

Taro Yamamoto, pemimpin partai oposisi kecil Reiwa Shinsengumi, mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan ketua partai pada Kamis (10/7/2025), menyusul skandal pelanggaran lalu lintas yang terungkap pekan lalu. Keputusan ini sekaligus mengakhiri karier politiknya di parlemen Jepang.
Dalam konferensi pers di Tokyo, Yamamoto menyatakan bahwa ia tidak hanya mundur sebagai ketua partai, tetapi juga tidak akan mencalonkan diri kembali sebagai anggota Diet (parlemen). "Hari ini, saya mengumumkan pengunduran diri sebagai ketua Reiwa Shinsengumi, dan bahwa saya tidak akan kembali sebagai anggota parlemen," ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia "merenungkan" kasus ngebut tersebut dan akan fokus memulihkan kesehatannya.
Partai tersebut pada Jumat pekan lalu mengungkapkan bahwa Yamamoto didenda 90.000 yen (sekitar Rp9,5 juta) dan dicabut izin mengemudinya selama 90 hari. Ia kedapatan mengendarai mobil sewaan dengan kecepatan 149 kilometer per jam di jalan tol yang memiliki batas kecepatan 80 km/jam di Prefektur Oita, Jepang barat daya, pada Oktober tahun lalu.
Yamamoto, 51 tahun, sebelumnya telah mundur dari garis depan politik pada Januari lalu dengan alasan perlu menjalani perawatan intensif untuk multiple myeloma, sejenis kanker sumsum tulang. Ia tetap menjabat sebagai ketua partai namun dengan beban kerja yang dikurangi. Kini, dengan pengunduran diri totalnya, partai yang didirikannya pada 2019 itu harus mencari wajah baru.
Reiwa Shinsengumi, yang dikenal sebagai partai anti-kemapanan, saat ini hanya memiliki satu kursi di Dewan Perwakilan Rakyat, turun drastis dari delapan kursi sebelum pemilu 8 Februari lalu. Di Dewan Penasihat (majelis tinggi), partai ini masih menguasai lima kursi. Yamamoto, yang sebelumnya berprofesi sebagai aktor, pertama kali terpilih sebagai anggota parlemen pada 2013.
Pemilihan ketua partai baru akan digelar pada 31 Juli mendatang. Menurut Yamamoto, ketua baru yang terpilih diperkirakan akan mengubah nama partai. Langkah ini menandai babak baru bagi Reiwa Shinsengumi, yang harus beradaptasi tanpa pendiri sekaligus ikon utamanya.
Bagi pengamat politik Jepang, kasus ini menyoroti betapa cepatnya seorang politisi dapat jatuh akibat pelanggaran pribadi. Yamamoto, yang selama ini vokal mengkritik pemerintah, justru tersandung masalah hukum yang terbilang sepele namun berdampak besar pada kariernya. Pertanyaan besarnya kini: akankah partai yang lahir dari gerakan protes ini mampu bertahan tanpa sosok karismatik seperti Yamamoto?



