Trump Nyatakan Gencatan Senjata dengan Iran Berakhir, Serangan Baru Dilancarkan
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan kembali melancarkan serangan militer di Selat Hormuz.
- Mediator internasional, termasuk Pakistan dan Qatar, berupaya menyelamatkan kesepakatan di tengah saling tuduh pelanggaran antara Washington dan Teheran.
- Eskalasi ini berpotensi mengerek harga minyak global dan mempengaruhi pemilu paruh waktu AS, serta berdampak pada stabilitas energi di Indonesia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan mengisyaratkan tidak lagi berminat mempertahankan kesepakatan yang baru terjalin beberapa pekan lalu. Dalam pernyataan yang kontradiktif, Trump tetap menegaskan bahwa serangan terbaru tidak berarti perang skala penuh, namun ia juga memerintahkan militer AS untuk melancarkan operasi baru guna menghancurkan kemampuan Iran mengganggu navigasi di Selat Hormuz.
Ketidakjelasan sikap Washington ini muncul hanya sebulan setelah kedua negara mencapai kesepakatan sementara 60 hari yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut merupakan langkah awal untuk menghentikan serangan terhadap kapal tanker minyak dan membuka jalan bagi perundingan nuklir. Namun, serangan balasan Iran terhadap kapal-kapal di selat strategis itu memicu reaksi keras dari Trump, yang kini kembali mengancam akan mengambil alih Pulau Kharg, pusat produksi minyak Iran.
Para mediator kini berlomba menyelamatkan gencatan senjata. Seorang pejabat intelijen regional yang terlibat dalam negosiasi mengatakan bahwa komunikasi tingkat tinggi terus berlangsung, namun saling curiga semakin dalam. Menteri luar negeri Pakistan dan Qatar, bersama kepala intelijen Mesir, memimpin upaya tersebut, dengan dukungan dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan pemimpin Arab Saudi. Iran menuduh AS melanggar kesepakatan dengan gagal mengamankan gencatan senjata di Lebanon dan penarikan Israel, sementara AS menuduh Iran memperlambat perundingan nuklir.
Analis militer Michael Eisenstadt dari Washington Institute for Near East Policy menilai pernyataan Trump merupakan bagian dari taktik negosiasi. "Kita masih dalam mode negosiasi, apa pun yang dikatakan presiden. Menyatakan MOU berakhir juga bagian dari negosiasi," ujarnya. Namun, sikap tegas Trump justru bisa membebaskan Iran secara militer dan memicu gejolak harga minyak yang merugikan ekonomi global. Ali Vaez, direktur Iran di International Crisis Group, memperingatkan bahwa "tawar-menawar koersif adalah permainan berbahaya: pada titik tertentu, kampanye tekanan bisa menjadi perang yang seharusnya dihindari."
Bagi Indonesia, eskalasi konflik di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung. Sebagai importir minyak mentah, Indonesia rentan terhadap lonjakan harga energi global. Jika harga minyak terus merangkak naik, beban subsidi BBM dan listrik akan meningkat, berpotensi mengganggu anggaran negara dan daya beli masyarakat. Selain itu, ketidakstabilan di Timur Tengah dapat mengganggu rantai pasok energi dan investasi di sektor hilir migas Indonesia. Pemerintah perlu mengantisipasi dengan mempercepat diversifikasi energi dan memperkuat cadangan strategis.
Trump, di sisi lain, tampak mengabaikan risiko politik domestik. Ia mengklaim kenaikan harga minyak sepadan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Namun, dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, tekanan terhadap Partai Republik untuk menstabilkan harga BBM akan semakin besar. Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin negosiasi awal dengan Iran, menyatakan bahwa Iran hanya "berperilaku baik selama seminggu" dan mengancam akan membalas setiap serangan terhadap kapal AS.
Pertanyaan besarnya kini: akankah eskalasi ini benar-benar mengarah pada perang terbuka, atau hanya sekadar gertakan untuk memperkuat posisi tawar? Yang jelas, diplomasi yang telah dibangun dengan susah payah kini berada di ujung tanduk, dan dunia menanti langkah selanjutnya dari kedua pihak.



