Andy Burnham Melaju Mulus ke 10 Downing Street: Dukungan 80% Kader Partai Buruh Mengantarnya Jadi PM Inggris
Baca dalam 60 detik
- Andy Burnham mengamankan dukungan 322 dari 403 anggota parlemen Partai Buruh, melampaui syarat 81 suara, sehingga hampir mustahil ada penantang lain.
- Burnham, yang sebelumnya menjabat Wali Kota Greater Manchester, berjanji menerapkan 'Manchesterism' untuk mendorong investasi infrastruktur dan mengakhiri stagnasi ekonomi dua dekade.
- Ia akan dilantik sebagai pemimpin partai pada 17 Juli dan bertemu Raja Charles III pada 20 Juli untuk resmi menjadi perdana menteri, tanpa perlu pemilu umum.

Andy Burnham dipastikan menjadi Perdana Menteri Inggris berikutnya setelah dukungan dari 80 persen anggota parlemen Partai Buruh membuat proses suksesi Keir Starmer hanya tinggal formalitas. Nominasi yang dibuka pada Kamis (9/7) langsung dimenangi Burnham dengan perolehan 322 suara dari 403 kader, jauh melampaui ambang batas 81 suara yang diperlukan untuk maju.
Pencapaian ini menutup peluang kandidat lain untuk menyainginya. Mantan Menteri Pertahanan Al Carns, yang sempat dipertimbangkan maju, secara resmi mengundurkan diri pada Rabu malam. “Saya berharap kontestasi kepemimpinan memberi ruang debat yang sehat, tetapi berbulan-bulan politik internal Partai Buruh bukan yang dibutuhkan negara saat ini. Andy Burnham pantas mendapatkannya dan saya mendukung penuh,” ujar Carns dalam pernyataannya.
Burnham, yang sebelumnya menjabat Wali Kota Greater Manchester selama hampir satu dekade, kembali ke parlemen melalui pemilu sela bulan lalu. Dalam pidato di media sosial, ia menyatakan “sangat berterima kasih” atas dukungan yang mencerminkan keyakinan bersama bahwa Inggris membutuhkan pendekatan politik baru. “Semua mulai terasa nyata,” katanya dalam sebuah video, seraya mengonfirmasi bahwa ia telah mencalonkan diri.
Burnham berjanji melakukan perubahan besar dengan membalikkan tren pertumbuhan rendah yang berlangsung hampir dua dekade sejak krisis keuangan 2008. Pendekatan yang disebutnya “Manchesterism” akan memadukan investasi swasta dan publik di sektor transportasi, perumahan, dan infrastruktur. Namun, ia tetap menghadapi tantangan ekonomi yang sama seperti Starmer: ekonomi lesu, sistem kesehatan dan kesejahteraan yang kelebihan beban, serta tekanan biaya hidup.
Di bidang kebijakan luar negeri, Burnham menjamin kontinuitas. Dalam artikel di The Times of London, ia menegaskan komitmen terhadap NATO dan pencegahan nuklir Inggris tetap mutlak, serta Inggris akan tetap menjadi sekutu setia Amerika Serikat dan pendukung kuat Ukraina. Namun, ia secara implisit mengkritik Starmer terkait perang Israel-Hamas. Burnham mengecam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya, tetapi juga menilai pemerintah Inggris “terlalu lambat menyerukan gencatan senjata” dalam konflik yang telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Ia mengisyaratkan kemungkinan sanksi tambahan terhadap pihak-pihak yang terlibat kekerasan di Gaza, termasuk larangan perdagangan dengan permukiman ilegal.
Bagi Indonesia, transisi kepemimpinan Inggris ini patut dicermati mengingat hubungan bilateral yang erat, terutama di bidang perdagangan dan investasi. Inggris merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia di Eropa, dan kebijakan “Manchesterism” yang mendorong investasi infrastruktur berpotensi membuka peluang bagi perusahaan Indonesia di sektor konstruksi dan energi. Selain itu, sikap Burnham yang lebih kritis terhadap Israel dapat memengaruhi dinamika diplomasi di forum multilateral seperti PBB, yang kerap menjadi ajang lobi isu Palestina.
Dengan dukungan parlemen yang solid dan tidak adanya pemilu hingga 2029, Burnham memiliki waktu panjang untuk merealisasikan agenda transformasinya. Pertanyaan besarnya: apakah “Manchesterism” mampu memecahkan kebuntuan ekonomi Inggris yang sudah berlangsung lama, atau justru akan menghadapi kendala serupa seperti pendahulunya?



