Belly of the Beast: Panggung yang Membongkar Sisi Kelam Ibu
Baca dalam 60 detik
- Pertunjukan teater Belly of the Beast mengupas realitas pahit keibuan, mulai dari depresi pascamelahirkan hingga keguguran, yang jarang dibicarakan di India.
- Berdasarkan buku Kalki Koechlin, drama ini menyoroti beban mental dan fisik ibu yang kerap dianggap tabu di tengah budaya yang mengagungkan peran ibu.
- Lewat humor dan kisah personal, pertunjukan ini mengajak penonton untuk menerima bahwa tidak apa-apa jika seorang ibu merasa tidak baik-baik saja.

Di India, di mana peran ibu dianggap suci dan tak tergantikan, sebuah pertunjukan teater berani membuka tabir kegelapan yang selama ini tersembunyi di balik senyum para ibu. Belly of the Beast, adaptasi panggung dari buku The Elephant in the Womb karya aktris Bollywood Kalki Koechlin, mengupas tuntas realitas keibuan yang jarang diakui: rasa sakit, kehilangan identitas, dan tekanan sosial yang mencekik.
Pertunjukan yang disutradarai Sheena Khalid ini mengikuti kisah lima perempuan pada fase keibuan yang berbeda—dari kehamilan, persalinan, hingga membesarkan anak sambil berjuang melawan perubahan tubuh, kurang tidur, dan tuntutan karier. Tak hanya itu, drama sepanjang 130 menit ini juga menyentuh tema-tema berat seperti aborsi, keguguran, dan depresi pascamelahirkan. Di negara yang menempatkan pernikahan dan keibuan sebagai tujuan akhir perempuan, kehadiran Belly of the Beast menjadi angin segar yang membuka ruang diskusi yang selama ini tertutup.
Menurut Kalki, perempuan jarang diizinkan untuk mengungkapkan sisi gelap keibuan. “Percakapan di India hanya tentang anugerah menjadi ibu, betapa indahnya, betapa diberkatinya kita. Namun proses yang mengubah hidup ini juga menyisakan duka dan kehilangan identitas,” ujarnya kepada BBC. Ia menambahkan bahwa masyarakat kerap menganggap remeh peran ibu, dan jika kelelahan itu diungkapkan, “maka ibu-ibu mungkin akan berhenti, dan masyarakat akan runtuh. Karena itu ada kecenderungan untuk berjalan di atas kulit telur.”
Salah satu adegan yang paling membekas menggambarkan percakapan antara suami istri sepulang kerja. Sang suami bercerita tentang harinya yang melelahkan, lalu bertanya kepada istrinya. Istrinya hanya bergumam, “Aku hanya menjaga bayi.” Adegan ini, menurut Kalki, mewakili jutaan perempuan India yang perjuangannya sehari-hari tak terlihat dan tak dihargai. Data terbaru dari Times of India menunjukkan bahwa 69% perempuan di perkotaan tidak berpartisipasi dalam angkatan kerja karena urusan domestik, sementara angka untuk laki-laki hanya 1%.
Bagi ibu yang memilih berkarier, tekanannya berlipat ganda. “Kita diberi tahu bahwa kita beruntung bisa bekerja dan menjadi ibu sekaligus. Tapi ada ekspektasi untuk menjadi supermum. Kita tidak mendapat keringanan di rumah. Kita harus menjadi CEO rumah setiap saat,” kata Kalki. Ia mengakui bahwa tekanan itu juga datang dari diri sendiri, karena standar kesempurnaan yang diinternalisasi. Namun, ia menekankan pentingnya membiarkan ayah atau anggota keluarga lain mengisi celah itu. “Tidak apa-apa untuk menjatuhkan bola dan tidak merasa bertanggung jawab atas semuanya.”
Tema paling kuat dalam pertunjukan ini adalah keguguran. Di India, kesulitan memiliki anak masih membawa stigma sosial yang berat. Perempuan yang kehilangan bayi tidak hanya berduka, tetapi juga menanggung rasa malu dan belas kasihan. Shruti Vyas, yang memerankan karakter yang berjuang untuk hamil, mengaku perannya didasarkan pada pengalaman pribadinya. “Saya ingin menyampaikan bahwa ada rasa sakit yang mungkin tidak terlihat dari luar, tapi bukan berarti Anda tidak mengalaminya,” katanya. Ia sering mendapat komentar, “Kamu kelihatan baik-baik saja, tidak seperti orang yang baru keguguran.” Melalui karakternya, ia ingin mengatakan bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja.
Di akhir pertunjukan, saat karakter Shruti berubah dari “tidak apa-apa, aku baik-baik saja” menjadi “sebenarnya aku tidak baik-baik saja, dan itu seharusnya tidak apa-apa, kan?” banyak penonton menjawab, “ya, seharusnya tidak apa-apa.” Momen ini menunjukkan bahwa pesan pertunjukan telah sampai. Belly of the Beast bukan sekadar hiburan, melainkan cermin bagi masyarakat untuk mulai mengakui bahwa keibuan tidak selalu hangat dan indah—dan itu tidak masalah.



