Banjir Guangxi Tewaskan 39 Orang, Topan Super Bavi Mengancam China Timur
Baca dalam 60 detik
- Bencana banjir di Guangxi, China selatan, menewaskan 39 orang dan menyebabkan sembilan lainnya hilang akibat jebolnya bendungan Liulan.
- Warga mengeluh tidak mendapat peringatan dini, sementara tim penyelamat menggunakan drone untuk mengirim bantuan ke daerah terisolasi.
- Topan Super Bavi diperkirakan menerjang Fujian dan Zhejiang akhir pekan ini, berpotensi memperparah bencana di kawasan yang sudah dilanda banjir.

Bencana banjir bandang yang melanda kawasan Guangxi, China selatan, telah merenggut 39 jiwa, sementara sembilan orang lainnya masih dinyatakan hilang. Peristiwa ini menjadi salah satu yang terparah dalam sejarah wilayah tersebut, dengan kerusakan infrastruktur dan pemukiman yang meluas. Otoritas setempat masih terus melakukan evakuasi dan pencarian korban di tengah ancaman cuaca ekstrem yang belum mereda.
Menurut laporan kantor berita Xinhua, sebanyak 26 kematian terkait langsung dengan jebolnya Bendungan Liulan. Air bah dari reservoir tersebut menyapu permukiman di sekitarnya tanpa peringatan yang memadai. Seorang warga yang hanya menyebutkan nama keluarganya, Huang, mengaku tidak pernah mendapat informasi akan datangnya bencana. "Jika kami mendapat peringatan, kerugian pasti jauh lebih kecil," ujarnya kepada AFP. Warga lain, Bi Yunchun, menambahkan bahwa dalam beberapa ratus tahun terakhir, baru kali ini air mencapai lantai dua rumah mereka.
Bendungan Liulan bukan satu-satunya yang jebol. Warga melaporkan bendungan lain yang lebih kecil di dekat Kota Gantang juga runtuh. Di Desa Dutian yang berdekatan dengan reservoir, gelombang banjir langsung menghantam rumah-rumah, bahkan beberapa bangunan rata dengan tanah. CCTV melaporkan bahwa 600 warga Dutian berhasil dievakuasi ke tempat aman, namun mereka terisolasi dari wilayah lain. Tim penyelamat mengerahkan drone besar untuk mengirimkan makanan dan perlengkapan ke daerah yang terputus akses jalannya.
Bencana ini menyoroti lemahnya sistem peringatan dini di daerah pedesaan China. Para ahli menilai bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, namun infrastruktur mitigasi bencana belum sepenuhnya siap. Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan bendungan dan sistem peringatan dini, terutama di musim hujan yang kerap memicu banjir dan tanah longsor. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia sendiri telah beberapa kali menekankan perlunya modernisasi alat deteksi dini di daerah rawan bencana.
Situasi di Guangxi semakin rumit dengan datangnya Topan Super Bavi yang diperkirakan mencapai daratan China akhir pekan ini. Badan Meteorologi Nasional China melaporkan bahwa topan dengan diameter lebih dari 1.000 km itu akan membawa hujan lebat hingga deras di wilayah utara dan timur laut China selama tiga hari ke depan. Setelah mendarat, Bavi diperkirakan akan bergerak ke barat laut dan secara bertahap melemah. Namun, sebelum itu, warga di Fujian dan Zhejiang harus bersiap menghadapi kemungkinan banjir susulan dan angin kencang.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah sistem peringatan dini China mampu merespons secara cepat dan efektif untuk meminimalkan korban jiwa di tengah ancaman topan yang beruntun. Pengalaman di Guangxi menunjukkan bahwa keterlambatan informasi dapat berakibat fatal. Dengan kondisi geografis yang mirip, Indonesia pun perlu mengevaluasi kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin tidak menentu.



