Klopp Buka-bukaan: Liverpool Siapkan Jet Pribadi demi Mbappe
Baca dalam 60 detik
- Jurgen Klopp mengungkap Liverpool menyewa jet pribadi dan menyajikan hidangan mewah untuk meyakinkan Kylian Mbappe bergabung pada 2017.
- Upaya itu gagal total setelah Mbappe memilih PSG dengan nilai transfer 180 juta euro, yang disebut Klopp sebagai 'non-transfer termahal'.
- Kisah ini menegaskan betapa agresifnya klub elite Eropa dalam memburu bintang, sekaligus menjadi pelajaran bagi klub Indonesia dalam strategi rekrutmen.

Jurgen Klopp, mantan manajer Liverpool, mengungkapkan bahwa klubnya pernah menyewa jet pribadi dan menyiapkan hidangan istimewa untuk membujuk Kylian Mbappe bergabung pada 2017โsebuah upaya yang berakhir sia-sia setelah pemain Prancis itu memilih Paris Saint-Germain.
Dalam wawancara dengan Magenta TV saat menjadi komentator Piala Dunia, Klopp menceritakan bagaimana Liverpool benar-benar 'all out' untuk mendapatkan Mbappe yang saat itu masih berseragam Monaco. Pesawat pribadi diterbangkan dari Blackpool ke Nice, Prancis, untuk menjemput Mbappe dan keluarganya. "Kami terbang berputar-putar, berbincang dengan keluarga, dan menikmati makanan enak," kata Klopp di pinggir lapangan. Ia menambahkan bahwa mereka sengaja tidak ingin ketahuan sedang mengadakan negosiasi.
Upaya itu, menurut Klopp, menjadi "non-transfer termahal" yang pernah dilakukan Liverpool. Mbappe akhirnya bergabung dengan PSG dengan status pinjaman yang diikuti opsi pembelian permanen senilai 180 juta euro (sekitar ยฃ153 juta). Ia menghabiskan tujuh tahun di Paris, menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub, sebelum pindah ke Real Madrid pada 2024.
Kisah ini menjadi sorotan karena menunjukkan betapa jauhnya langkah klub-klub Eropa dalam memburu talenta muda. Bagi pengamat sepak bola Indonesia, cerita ini mengingatkan bahwa persaingan di level tertinggi tidak hanya soal uang, tetapi juga pendekatan personal dan kreativitas negosiasi. Klopp, yang kini diisukan akan menjadi pelatih tim nasional Jerman, mengakui bahwa meski usaha maksimal, keputusan akhir tetap di tangan pemain.
"Kami terbang berputar-putar. Itu fantastis. Dan kemudian dia pergi ke Paris," ujar Klopp dengan nada getir. Mbappe, yang diwakili oleh ibunya yang menjalankan perusahaan konsultan pesepak bola profesional, memilih PSG yang saat itu menawarkan proyek ambisius di bawah kepemilikan Qatar.
Bagi klub-klub Indonesia yang kerap kesulitan bersaing di pasar transfer regional, pelajaran dari kegagalan Liverpool ini bisa menjadi bahan evaluasi: pendekatan personal dan fasilitas mewah tidak selalu menjamin kesuksesan. Faktor lain seperti proyek jangka panjang, gaji, dan ambisi klub sering kali menjadi penentu. Ke depan, apakah akan ada klub Asia yang berani meniru strategi 'jet pribadi' ala Liverpool? Atau justru lebih fokus pada pembinaan pemain muda?



