Sampah Pernikahan Taylor Swift Laku Keras: 1.300 Kubus Sampah Terjual ke 30 Negara
Baca dalam 60 detik
- Seniman Justin Gignac meraup untung dari sampah pernikahan Taylor Swift dan Travis Kelce di Madison Square Garden, menjual 1.300 kubus sampah seharga $25 per buah.
- Kubus berisi puntung rokok, tutup botol, hingga alat tes ovulasi ini ludes terjual ke 30 negara, menunjukkan fenomena fandom yang tak biasa.
- Karya ini menjadi bagian dari serial 'Pocket Garbage' Gignac yang sebelumnya sukses dengan momen ikonik New York lainnya.

Lebih dari 1.300 kubus sampah berisi puntung rokok, tutup botol, dan bahkan alat tes ovulasi yang dikumpulkan dari luar Madison Square Garden usai pernikahan Taylor Swift dan Travis Kelce ludes terjual ke penggemar di 30 negara. Seniman asal New York, Justin Gignac, memanfaatkan momen tersebut dengan mengemas sampah yang ditinggalkan para tamu dan menjualnya sebagai suvenir edisi terbatas.
Gignac, yang dikenal dengan proyek "NYC Garbage" sebelumnya, mendatangi lokasi pernikahan pada 3 Juli 2026 dengan mengenakan tuksedo lengkap dan alat pemungut sampah. Ia mengumpulkan berbagai barang sisa yang berserakan di trotoar, lalu mengemasnya dalam kubus plastik bening berukuran 1 inci persegi. Setiap kubus dijual seharga $25 ditambah ongkos kirim $10, dan seluruh stok habis dalam waktu singkat.
Kubus-kubus tersebut diberi label "New York City Garbage: JusT+T Married" dan "Not Invited Edition (Taylor + Travis' Wedding)". Dalam deskripsi produknya, Gignac menulis bahwa sampah itu dikumpulkan "dari tepi kisah cinta di luar Madison Square Garden, sedekat mungkin dengan hari besar Taylor dan Travis tanpa undangan". Ia juga menjamin bahwa kemasan tidak akan bocor atau mengeluarkan bau.
Fenomena ini menunjukkan sejauh mana fanatisme penggemar Taylor Swift, yang rela membeli sampah demi memiliki "sepotong" momen bersejarah. Gignac sebelumnya telah sukses menjual kubus sampah edisi terbatas untuk perayaan besar New York lainnya, seperti parade kemenangan New York Giants 2012 dan parade Yankees 2009. Namun, respons terhadap edisi pernikahan Swift-Kelce jauh lebih besar, dengan pesanan dari berbagai benua.
Bagi penggemar di Indonesia, fenomena ini mungkin terasa asing namun mencerminkan tren global di mana barang-barang tak bernilai bisa menjadi komoditas bernilai tinggi jika terkait dengan selebritas. Di era media sosial, momen seperti ini kerap menjadi viral dan mendorong perilaku konsumtif yang unik. Meski tak ada data spesifik pembeli dari Indonesia, popularitas Swift yang besar di Tanah Air membuka kemungkinan adanya kolektor lokal yang ikut berburu kubus sampah tersebut.
"Apakah orang mengira saya adalah tamu pernikahan yang memutuskan membersihkan jalanan setelah pesta? Ya, benar," canda Gignac di halaman produknya.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah tren ini akan berlanjut untuk momen-momen besar lainnya, atau justru memicu kritik terkait komersialisasi sampah. Yang jelas, Gignac telah membuktikan bahwa kreativitas dan timing yang tepat bisa mengubah limbah menjadi ladang uang.



