Pemakaman Ali Khamenei: Iran Sulap Ritual Duka Jadi Panggung Politik dan Diplomatik
Baca dalam 60 detik
- Ali Khamenei dimakamkan setelah prosesi panjang yang sengaja diperpanjang untuk memproyeksikan stabilitas rezim di tengah tekanan AS-Israel.
- Lebih dari 15 juta orang dilaporkan hadir, menunjukkan kemampuan mobilisasi massal meskipun ekonomi terpuruk dan trauma represi.
- Pemakaman dihadiri delegasi 70 negara dengan sambutan ayat Alquran yang disesuaikan, menegaskan poros perlawanan Iran dan pesan bagi rival regional.

Pemakaman Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang tewas dalam operasi bersama AS-Israel pada Februari 2026, akhirnya digelar setelah seminggu penuh ritual duka yang tak biasa. Prosesi yang sengaja ditunda ini bukan sekadar penghormatan terakhir, melainkan panggung politik dan diplomatik yang dirancang untuk memperkuat legitimasi rezim di tengah eskalasi ketegangan dengan Barat.
Tradisi Islam mensyaratkan pemakaman segera, seperti yang terjadi pada Ayatollah Khomeini yang dimakamkan tiga hari setelah wafat pada 1989, atau Jenderal Qasem Soleimani yang dikebumikan dalam sepekan. Namun, Iran justru memperpanjang masa berkabung menjadi tujuh hari, memanfaatkannya untuk menunjukkan daya tahan politik dan jaringan regional yang masih solid. Menurut pejabat Iran, lebih dari 15 juta orang telah berpartisipasi dalam prosesi hingga hari ketiga, dengan barisan jemaah membentang 25 kilometer menuju kota suci Qom.
Pemerintah Iran berupaya membantah narasi bahwa rakyatnya mendambakan perubahan rezimโklaim yang kerap disuarakan oposisi garis keras, Barat, dan Israel. Siaran langsung kerumunan massa yang membentang luas dimaksudkan untuk melemahkan justifikasi serangan yang menewaskan Khamenei. Namun, tantangan besar muncul: masyarakat Iran masih terluka akibat penumpasan protes Januari 2026 yang menewaskan ribuan orang, ditambah krisis ekonomi berkepanjangan. Meski demikian, rezim dinilai berhasil menarik simpati di luar lingkaran loyalis pemerintah.
Prosesi yang digelar di sejumlah kota Iran, termasuk di luar Teheran, serta di Irak, menjadi bukti kemampuan mobilisasi logistik yang masifโmulai dari penyediaan konsumsi, tempat berteduh, hingga transportasi bagi peserta. Tak hanya itu, teriakan "Matilah Amerika" dan "Matilah Israel" dari ribuan pelayat menjadi pesan tegas bahwa Iran tidak akan tunduk dan akan membalas kematian pemimpinnya. Pesan ini juga ditujukan kepada para negosiator agar tidak kompromi terhadap doktrin perlawanan, yakni strategi ideologis menolak dominasi Barat dan Israel.
Namun, di balik kemegahan, terdapat keretakan. Hassan Khomeini, cucu pemimpin pertama Iran, meninggalkan prosesi secara mendadak setelah mendengar pembacaan ayat yang dianggap merendahkannya dibanding Khamenei. Mantan presiden Hassan Rouhani dan Mohammad Khatami juga absen dari prosesi pribadi di Masjid Mosalla, menodai citra persatuan. Lebih jauh, pelayat dan tokoh garis keras melontarkan kritik pedas kepada Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi karena negosiasi dengan AS terus berjalan meskipun pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, mendeklarasikan oposisi prinsip terhadap dialog.
Pemerintah Iran tidak mengundang pejabat negara Barat, tetapi memperluas undangan ke lebih dari 70 negara, termasuk faksi-faksi dari Afghanistan seperti Front Perlawanan Nasional Ahmad Massoud dan delegasi Taliban. Setiap rombongan disambut dengan ayat Alquran yang dipilih secara khusus. Arab Saudi, misalnya, mendapat ayat yang mengingatkan persaingan regional, sementara Pakistan disambut dengan ayat yang memuji peran mediasinya. China dan Rusia, sebagai negara non-Muslim, juga mendapat sambutan istimewa.
Pemakaman Khamenei telah menjadi alat diplomasi yang efektif untuk memproyeksikan perlawanan terhadap apa yang disebut Iran sebagai "kesombongan global". Keberhasilan mengelola jutaan pelayat tanpa insiden serius, di tengah suhu tinggi dan ancaman serangan AS, menunjukkan kapasitas organisasi yang tak lekang. Bagi Indonesia, momen ini mengingatkan bahwa Iran tetap menjadi poros perlawanan yang mampu memobilisasi dukungan regional dan internasional, meskipun tekanan dari Barat terus meningkat. Pertanyaannya, akankah momentum ini cukup untuk mempertahankan stabilitas di bawah kepemimpinan baru Mojtaba Khamenei?



