Perkasa di Piala Dunia, Bisakah Prancis Dihentikan?
Baca dalam 60 detik
- Prancis melaju mulus ke perempat final dengan rekor sempurna lima kemenangan beruntun dan hanya kebobolan dua gol.
- Spanyol menjadi ancaman terbesar berkat pertahanan kokoh tanpa kebobolan dan rekor tak terkalahkan 35 laga.
- Maroko, yang pernah menjadi semifinalis, berpotensi menjadi batu sandungan dengan strategi bertahan yang disiplin.

Tim nasional Prancis tampil begitu dominan di Piala Dunia edisi kali ini sehingga banyak pengamat menyebut mereka sebagai salah satu favorit terkuat yang pernah ada. Dalam lima pertandingan, Les Bleus selalu menang, mencetak 14 gol dan hanya kebobolan dua kali. Kylian Mbappé, yang telah mengoleksi tujuh gol, menjadi mesin gol utama, didukung trio mematikan Michael Olise, Ousmane Dembélé, dan Bradley Barcola. Namun, di balik keganasan itu, pertanyaan besar muncul: adakah tim yang mampu menghentikan laju juara 2018 dan runner-up 2022 ini?
BBC Sport menjaring pendapat para jurnalisnya menjelang laga perempat final melawan Maroko. Sebagian besar sepakat bahwa Prancis memang tim terbaik sejauh ini, tetapi bukan tanpa celah. Ian Dennis, reporter senior BBC Radio 5 Live, justru menilai Spanyol lebih layak difavoritkan. “Spanyol memiliki kendali permainan yang lebih baik, pertahanan yang solid, dan belum kebobolan satu gol pun,” ujarnya. Ia menunjuk pada fakta bahwa Senegal dan Norwegia mampu merepotkan Prancis di babak pertama, yang menurutnya menunjukkan kelemahan dalam penguasaan bola.
Phil McNulty, kepala penulis sepak bola BBC Sport, mengakui kehebatan Prancis tetapi mengingatkan bahwa mereka akan menghadapi ujian berat jika bertemu Spanyol di semifinal. Spanyol sedang dalam rentetan 35 pertandingan tak terkalahkan di semua ajang, dan baru saja menyingkirkan Portugal lewat gol injury time. “Jika Prancis bisa melewati Spanyol, mereka berpotensi bertemu Argentina atau Inggris di final. Turnamen ini sudah membuktikan tidak ada yang pasti,” kata McNulty.
John Murray, komentator senior BBC, menyoroti bahwa Prancis telah melewati berbagai rintangan, termasuk penundaan akibat badai di Philadelphia dan kehilangan pelatih Didier Deschamps yang pulang untuk pemakaman ibunya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tim-tim spektakuler seperti Brasil 1982 atau Jerman 2006 gagal di Piala Dunia. “Spanyol bisa menjadi batu sandungan, seperti yang mereka lakukan di semifinal Euro 2024,” tambahnya.
Kekuatan utama Prancis justru bisa menjadi kelemahan. Penempatan Olise sebagai gelandang serang membuat lini depan semakin berbahaya, tetapi meninggalkan ruang di lini tengah. Alex Howell, reporter Inggris BBC, mempertanyakan apakah Olise mau bertahan dan menekan saat menghadapi tim yang menguasai bola. “Maroko bisa mengeksploitasi area itu, dan Spanyol pasti akan menguji dengan penguasaan bola mereka,” ujarnya. Namun, ia juga optimistis Inggris bisa mengalahkan Prancis di final jika mampu tampil dengan kegigihan tinggi.
Maroko, yang menjadi semifinalis empat tahun lalu, tidak boleh dianggap remeh. Mereka memiliki pertahanan disiplin dan mampu membuat frustrasi lawan. “Jika mereka bisa bertahan dan memanfaatkan peluang, kenapa tidak?” kata salah satu jurnalis. Namun, Prancis memiliki kedalaman skuad yang luar biasa, dengan pemain seperti Désiré Doué dan Rayan Cherki di bangku cadangan.
Bagi Indonesia, dominasi Prancis dan Spanyol menjadi tontonan menarik, terutama karena banyak pemain keturunan Indonesia yang bermain di Eropa. Namun, belum ada tanda-tanda bahwa Indonesia akan segera bersaing di level ini. Pertandingan perempat final antara Prancis dan Maroko akan menjadi ujian apakah tim favorit benar-benar tak terkalahkan, atau justru kejutan lain akan tercipta.



