Kemarahan Meledak di Benggala Barat: Bocah 11 Tahun Diperkosa dan Dibunuh, Tersangka Tewas dalam 'Pengadilan Jalanan'
Baca dalam 60 detik
- Seorang bocah perempuan berusia 11 tahun ditemukan tewas di kolam setelah dilaporkan hilang, memicu protes dan kekerasan di Benggala Barat.
- Polisi menembak mati seorang tersangka dalam 'baku tembak', namun langkah itu justru memicu kontroversi dan tuduhan pelanggaran hukum.
- Insiden ini menjadi ujian bagi pemerintahan BJP yang baru berkuasa, yang sebelumnya berjanji meningkatkan keamanan perempuan di negara bagian tersebut.

Kemarahan publik meledak di Benggala Barat, India, setelah seorang bocah perempuan berusia 11 tahun ditemukan tewas di sebuah kolam di Desa Surjyapur, pinggiran Kolkata, Minggu (14/7). Korban dilaporkan hilang sehari sebelumnya saat pergi membeli kado ulang tahun untuk temannya. Penemuan jasad bocah malang itu memicu gelombang protes, perusakan fasilitas umum, hingga aksi main hakim sendiri yang menewaskan seorang pemuda tak bersalah.
Keluarga korban mengaku telah melapor ke polisi pada Sabtu malam, namun petugas diduga tidak menanggapi serius laporan tersebut. "Mereka bilang akan menanganinya besok," ujar salah satu kerabat. Frustrasi, warga dan keluarga justru berinisiatif memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi. Dari rekaman itu, mereka melihat korban berjalan bersama seorang pria bernama Prabhash Mondal. Warga kemudian menangkap Mondal dan menyerahkannya ke polisi pada Minggu pagi. Beberapa jam kemudian, jasad korban ditemukan dalam karung di kolam. Hasil otopsi menunjukkan penyebab kematian adalah tenggelam, memicu dugaan bahwa korban masih hidup saat dibuang.
Kemarahan tak terbendung. Massa merusak jalan, toko, dan stasiun kereta setempat. Seorang pemuda dihakimi hingga tewas—Kepala Menteri Suvendu Adhikari kemudian menyatakan pemuda itu tidak bersalah. Polisi mencatat tiga kasus dan menahan 40 orang. Situasi masih mencekam dengan larangan berkumpul dan penjagaan ketat aparat.
Insiden ini langsung menjadi bola panas politik. Partai oposisi menuding pemerintahan Partai Bharatiya Janata (BJP) yang baru berkuasa gagal melindungi perempuan. BJP, yang untuk pertama kalinya memenangkan Benggala Barat pada Mei lalu, membantah tuduhan tersebut. Namun, kejahatan ini terjadi hanya dua bulan setelah kemenangan mereka, saat partai tersebut gencar mengampanyekan isu keamanan perempuan. Analis menilai kekalahan mantan Kepala Menteri Mamata Banerjee salah satunya dipicu oleh kekhawatiran publik atas keselamatan perempuan dan penanganan buruk kasus pemerkosaan dokter magang di rumah sakit pemerintah.
Kontroversi semakin memanas setelah polisi menembak mati Mondal pada Rabu (17/7) dalam sebuah "baku tembak". Menurut pernyataan polisi Baruipur, Mondal dibawa ke kolam untuk merekonstruksi adegan kejahatan, tetapi ia mencoba merebut senjata petugas dan melepaskan tembakan. Polisi membalas dan melukainya; Mondal kemudian dinyatakan tewas di rumah sakit. Namun, para aktivis hak asasi manusia dan politisi oposisi mempertanyakan versi tersebut. "Kisah 'baku tembak' ini sudah biasa di banyak negara bagian India—tersangka selalu mencoba merebut senjata lalu tewas," ujar Ranjit Sur dari Asosiasi Perlindungan Hak Demokratis. Ia mencontohkan kasus serupa di Hyderabad tahun 2019, di mana empat tersangka pemerkosaan dan pembunuhan tewas dalam "baku tembak" polisi.
Ibu Mondal, yang menolak menerima jenazah anaknya, mengatakan kepada kantor berita ANI, "Anak saya telah dihukum atas perbuatannya. Saya tidak akan menerima jenazahnya." Pernyataan itu menambah lapisan tragis pada kasus yang sudah rumit ini. Sementara itu, rumah seorang politisi lokal BJP, Sushant Mondal, diserbu massa yang menuduhnya membantu para tersangka—tuduhan yang ia bantah.
Kasus ini juga mulai mengarah pada sentimen agama: korban beragama Muslim, sementara para tersangka Hindu. Kepala Menteri Adhikari telah mengunjungi keluarga korban dan berjanji menindak tegas kejahatan serupa. Namun, dengan satu tersangka tewas di tangan polisi dan tiga lainnya masih dalam tahanan, pertanyaan besar menggantung: akankah proses hukum berjalan transparan, atau justru semakin memperkeruh suasana di negara bagian yang baru saja berganti kekuasaan ini?



