RUPSLB Adhi Karya Restrukturisasi Jajaran Direksi dan Komisaris
Baca dalam 60 detik
- Adhi Karya menggelar RUPSLB yang menyetujui perubahan susunan pengurus, termasuk pengangkatan Rozi Sparta sebagai Direktur Portofolio Bisnis dan Manajemen Risiko.
- Perombakan ini dipicu oleh pengunduran diri Vera Kirana dari jabatan Direktur Portofolio Bisnis dan Risiko pada pertengahan Mei 2026.
- Langkah ini diambil untuk memperkuat tata kelola dan mendukung target kinerja jangka panjang perseroan di tengah tantangan industri konstruksi.

PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) resmi merombak jajaran direksi dan komisarisnya melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada awal Juli 2026. Keputusan ini diambil setelah perseroan menerima surat pengunduran diri Vera Kirana dari jabatan Direktur Portofolio Bisnis dan Risiko pada 12 Mei 2026, yang memicu kebutuhan untuk menata ulang struktur kepemimpinan.
Dalam RUPSLB tersebut, pemegang saham menyetujui pengangkatan Rozi Sparta sebagai Direktur Portofolio Bisnis dan Manajemen Risiko, menggantikan peran yang sebelumnya diemban Vera Kirana. Selain itu, sejumlah posisi kunci lainnya juga mengalami perubahan. Di jajaran komisaris, Dody Usodo Hargosuseno ditunjuk sebagai Komisaris Utama, sementara Alexander Rubi Satyoadi, R. Erwin M. Singajuru, Elan Suherlan, dan Rustam Sofyan Sirait masing-masing menjabat sebagai komisaris dan komisaris independen. Sementara itu, direksi tetap dipimpin oleh Moeharmein Z.C sebagai Direktur Utama, didampingi Harimawan (Direktur Operasi I), Yan Arianto (Direktur Operasi II), Bani Iqbal (Direktur Keuangan), dan Ki Syahgolang Permata (Direktur Human Capital dan Legal).
Manajemen Adhi Karya menegaskan bahwa perombakan ini merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat tata kelola perusahaan dan memastikan kesinambungan bisnis di tengah persaingan ketat sektor konstruksi. "Keputusan ini diambil untuk mendukung pencapaian target kinerja dan strategi pertumbuhan perseroan ke depan," demikian pernyataan resmi perseroan. Langkah ini juga dinilai sebagai respons terhadap dinamika pasar yang menuntut adaptasi cepat, terutama dalam pengelolaan portofolio proyek dan mitigasi risiko.
Bagi investor dan pelaku pasar modal, perubahan susunan pengurus ini menjadi sinyal bahwa Adhi Karya berupaya meningkatkan profesionalisme dan akuntabilitas. Dalam beberapa tahun terakhir, BUMN konstruksi seperti Adhi Karya menghadapi tekanan dari meningkatnya biaya material dan persaingan dengan kontraktor swasta. Dengan jajaran direksi dan komisaris yang baru, perseroan diharapkan dapat lebih gesit dalam menangkap peluang proyek infrastruktur pemerintah, termasuk program Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pembangunan kawasan ekonomi khusus.
Keputusan RUPSLB ini juga relevan bagi pemangku kepentingan di Indonesia, mengingat Adhi Karya merupakan salah satu kontraktor pelat merah yang kerap terlibat dalam proyek-proyek strategis nasional. Perubahan di level pucuk pimpinan sering kali berdampak pada arah kebijakan perusahaan, termasuk dalam hal pengelolaan risiko dan ekspansi bisnis. Para analis memperkirakan bahwa fokus utama ke depan adalah memperbaiki efisiensi operasional dan memperkuat posisi keuangan perseroan.
Ke depan, publik akan mencermati apakah langkah ini cukup untuk mendorong Adhi Karya mencapai target pertumbuhan yang telah ditetapkan. Dengan tantangan seperti fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian ekonomi global, kemampuan jajaran baru dalam menavigasi risiko akan menjadi ujian sesungguhnya. Apakah perombakan ini akan membawa angin segar bagi kinerja saham ADHI di bursa?



