IHSG Bangkit ke 5.900 di Tengah Ketegangan Global, Investor Waspadai Risiko Perang
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan menguat 0,67% ke level 5.912 pada sesi pertama Kamis (9/7), ditopang sektor barang baku dan energi.
- Serangan AS ke Iran dan pemangkasan proyeksi IMF menjadi sentimen negatif yang membayangi pasar Indonesia.
- IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia tetap tumbuh 5,0% pada 2026, namun risiko inflasi global dan harga energi tinggi mengintai.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus kembali level psikologis 5.900 pada perdagangan sesi pertama Kamis (9/7/2026), ditopang oleh meredanya tekanan jual dan penguatan di sejumlah sektor utama. Namun, di balik penguatan ini, investor masih dihadapkan pada bayang-bayang eskalasi konflik Timur Tengah serta revisi prospek ekonomi global yang kian suram.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup sementara di posisi 5.912,44, naik 39,07 poin atau 0,67% dari penutupan sebelumnya. Sebanyak 327 saham tercatat menguat, sementara 275 saham melemah dan 190 saham stagnan. Kapitalisasi pasar bursa mencapai Rp10.351 triliun, menunjukkan kepercayaan investor mulai pulih meskipun masih dibayangi ketidakpastian global.
Penguatan IHSG terutama didorong oleh sektor barang baku, energi, dan konsumer yang mencatat kenaikan tertinggi. Saham-saham seperti AMMN, BRMS, BUMI, VKTR, dan BMRI menjadi motor penggerak indeks. Sebaliknya, sektor kesehatan, teknologi, properti, dan finansial justru mengalami kontraksi, mengindikasikan rotasi sektoral yang masih berlangsung.
Di sisi lain, sentimen eksternal masih menjadi beban berat. Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu (8/7) sebagai balasan atas serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara dengan Iran telah berakhir dan mengancam akan memberikan respons yang lebih keras. Iran pun dikabarkan tengah menyiapkan serangan balasan, termasuk kemungkinan keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan menutup Selat Bab el-Mandeb.
Ketegangan ini mendorong harga minyak mentah Brent naik ke kisaran US$79,28 per barel, meningkatkan kekhawatiran akan lonjakan biaya energi yang dapat membebani perekonomian negara importir minyak seperti Indonesia. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook terbaru memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3%, lebih rendah dari 3,5% pada 2025. IMF juga memperkirakan inflasi global meningkat menjadi 4,7% pada 2026, didorong oleh kenaikan harga komoditas.
Bagi Indonesia, IMF masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan 5,0% pada 2026 dan 5,1% pada 2027. Namun, risiko dari eksternal tetap signifikan. "Konflik AS-Iran menjadi salah satu risiko terbesar bagi perekonomian global, dan Indonesia tidak kebal terhadap dampaknya," demikian analisis IMF. Investor domestik pun dihadapkan pada dilema: optimisme pada fundamental ekonomi lokal versus tekanan dari gejolak geopolitik dan kenaikan harga energi.
Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan volatil. Pasar akan mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran serta data ekonomi global, termasuk inflasi AS dan kebijakan suku bunga bank sentral. Apakah penguatan IHSG hari ini merupakan awal tren bullish atau sekadar technical rebound di tengah badai? Jawabannya tergantung pada kemampuan pasar mencerna risiko perang yang masih jauh dari kata reda.



