Perubahan Epigenetik pada Sel Glial: Kunci Mengapa Parkinson Lebih Sering Menyerang Pria
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru mengungkap perbedaan aktivitas gen pada sel pendukung otak antara pria dan wanita penderita Parkinson, yang mungkin menjelaskan kesenjangan prevalensi 1,5 kali lipat pada pria.
- Temuan menunjukkan bahwa respons stres seluler bersifat universal, namun regulasi energi dan perlindungan sinapsis berbeda berdasarkan jenis kelamin, membuka jalan bagi terapi yang dipersonalisasi.
- Penelitian ini menekankan perlunya memperluas fokus dari neuron ke seluruh jenis sel otak, serta mengintegrasikan faktor epigenetik dan lingkungan untuk memahami heterogenitas Parkinson.

Sebuah studi yang dipresentasikan di Forum FENS 2026 di Barcelona mengungkap bahwa perubahan epigenetik pada sel glial—bukan hanya neuron—dapat menjadi kunci mengapa pria 1,5 kali lebih mungkin terkena Parkinson dibandingkan wanita. Temuan ini memberikan perspektif baru dalam memahami kesenjangan gender pada penyakit neurodegeneratif kedua paling umum di dunia ini.
Parkinson memengaruhi sekitar 1% populasi di atas usia 60 tahun, dan jumlah kasus diproyeksikan mencapai 9 juta pada 2030—dua kali lipat sejak 2005. Meski telah dikenal lebih dari seabad, penyebab pasti penyakit ini masih belum sepenuhnya terungkap. Faktor lingkungan seperti cedera kepala dan paparan pestisida kerap dikaitkan, namun studi ini menyoroti mekanisme molekuler yang lebih dalam.
Tim peneliti yang dipimpin Prof. Julia Schulze-Hentrich dari Universitas Saarland menganalisis sampel otak dari 73 pasien Parkinson (28 wanita, 45 pria) dan 24 individu sehat. Mereka mengukur ekspresi gen di lima wilayah otak pada semua jenis sel, termasuk neuron dan glial (astrosit, oligodendrosit, mikroglia). Hasilnya menunjukkan bahwa Parkinson memicu respons stres universal—sel mengaktifkan protein "chaperone" untuk memperbaiki protein yang salah lipat—namun terdapat perbedaan signifikan antar jenis kelamin.
Menurut Laura Bojarskaite, neurosaintis dari Universitas Oslo yang tidak terlibat dalam studi, pendekatan ini menarik karena melihat Parkinson melalui kacamata jenis kelamin dan sel glial. "Sel glial selama ini dianggap hanya pendukung, tetapi ternyata memainkan peran krusial dalam perkembangan penyakit," ujarnya. Schulze-Hentrich menambahkan, temuan ini menjelaskan mengapa gejala dan progresivitas Parkinson berbeda antara pria dan wanita, dan berpotensi mengarah pada pengobatan yang dipersonalisasi.
Dr. Kang Hsu, CMO Canary Speech, menyoroti bahwa wanita dengan Parkinson menunjukkan perubahan epigenetik yang lebih kuat di darah meskipun insidensinya lebih rendah. "Ini paradoks yang menarik dan perlu diteliti lebih lanjut," katanya. Sementara itu, Dr. Rab Nawaz Khan, neurolog yang tidak terlibat, mengingatkan bahwa Parkinson sangat heterogen—dua pasien bisa memiliki gejala, riwayat genetik, dan paparan lingkungan yang berbeda—sehingga diagnosis dini masih sulit.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat populasi lansia terus bertambah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi Parkinson di Indonesia diperkirakan mencapai 200–300 per 100.000 penduduk, namun angka pasti masih minim. Penelitian epigenetik semacam ini dapat mendorong pengembangan biomarker diagnostik yang lebih akurat dan terapi yang disesuaikan dengan profil genetik pasien, mengurangi ketergantungan pada pengobatan simtomatik yang ada saat ini.
Ke depan, para peneliti berharap studi ini membuka jalan bagi pendekatan yang lebih holistik—tidak hanya berfokus pada neuron atau satu jenis kelamin. Pertanyaan besarnya: akankah pemahaman tentang epigenetik dan sel glial mampu menjembatani kesenjangan gender dalam diagnosis dan pengobatan Parkinson, atau justru menambah kompleksitas teka-teki yang sudah rumit ini?



