Honeywell Technologies Optimistis Laba Melonjak Usai Pemecahan Saham dan Pemisahan Unit Aerospace
Baca dalam 60 detik
- Honeywell Technologies merevisi naik target laba per saham semester II 2026 menjadi $4,40โ$4,70 dari sebelumnya $2,20โ$2,35, pasca pemecahan saham 1:2.
- Peningkatan proyeksi ini merupakan efek dari pemisahan dan pencatatan saham Honeywell Aerospace yang selesai akhir Juni, serta restrukturisasi tiga arah perusahaan.
- Langkah korporasi ini menjadi sinyal positif bagi investor global, termasuk pelaku pasar Indonesia yang mencermati dampak spin-off terhadap rantai pasok industri penerbangan.

Honeywell Technologies, perusahaan otomasi yang sebelumnya dikenal sebagai Honeywell, merevisi naik target laba bersih untuk paruh kedua dan sepanjang tahun 2026, hanya beberapa hari setelah menyelesaikan pemecahan saham terbalik (reverse stock split) dengan rasio satu banding dua. Langkah ini menjadi bagian dari strategi restrukturisasi besar yang telah direncanakan sejak tahun lalu di bawah tekanan investor aktivis Elliott Investment Management.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Rabu (8/7), manajemen Honeywell Technologies menyebutkan bahwa laba per saham (EPS) disesuaikan untuk semester II 2026 diperkirakan berada di kisaran $4,40 hingga $4,70, melonjak dari proyeksi awal yang hanya $2,20โ$2,35. Untuk target tahun penuh, EPS disesuaikan dinaikkan menjadi $7,90โ$8,30, dibandingkan perkiraan sebelumnya $3,95โ$4,15. Meski demikian, proyeksi pendapatan dan margin segmen untuk periode yang sama tidak mengalami perubahan.
Kenaikan target laba ini tidak terlepas dari pemisahan dan pencatatan saham Honeywell Aerospace yang rampung pada akhir Juni lalu. Honeywell, yang sebelumnya merupakan konglomerat terdiversifikasi, kini terpecah menjadi tiga entitas terpisah: Honeywell Technologies yang fokus pada otomasi dan solusi industri, Solstice Advanced Materials yang bergerak di bahan kimia dan material canggih, serta Honeywell Aerospace yang melayani sektor dirgantara. Pemecahan tiga arah ini diumumkan tahun lalu sebagai respons terhadap tekanan dari Elliott Investment Management, yang mendorong peningkatan nilai pemegang saham melalui fokus bisnis yang lebih tajam.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, langkah Honeywell Technologies ini memberikan gambaran bagaimana perusahaan global merespons tekanan pemegang saham dengan melakukan restrukturisasi radikal. Meski tidak berdampak langsung pada bursa domestik, spin-off Honeywell Aerospace berpotensi memengaruhi rantai pasok komponen pesawat yang selama ini melibatkan sejumlah perusahaan Indonesia. Sejumlah maskapai dan penyedia perawatan pesawat di Tanah Air tercatat menjadi pelanggan produk Honeywell, seperti sistem avionik dan mesin tambahan.
Analis menilai bahwa pemisahan unit aerospace memungkinkan Honeywell Technologies untuk lebih agresif dalam mengakuisisi perusahaan rintisan di bidang otomasi dan kecerdasan buatan, yang menjadi fokus utama bisnisnya. Sementara itu, Honeywell Aerospace yang kini independen dapat lebih leluasa mengejar kontrak pertahanan dan penerbangan komersial tanpa terbebani struktur konglomerasi. Langkah serupa sebelumnya dilakukan oleh General Electric yang memisahkan unit kesehatan dan energinya.
Ke depan, investor akan mencermati apakah target laba yang dinaikkan ini dapat tercapai di tengah ketidakpastian ekonomi global, terutama perlambatan industri manufaktur di Eropa dan Tiongkok. Honeywell Technologies sendiri masih mempertahankan proyeksi pendapatan dan margin segmen yang tidak berubah, mengindikasikan bahwa optimisme laba lebih didorong oleh efisiensi biaya dan struktur modal pasca pemecahan saham, bukan oleh peningkatan penjualan. Pertanyaan yang mengemuka: akankah strategi restrukturisasi ini cukup untuk memuaskan Elliott Investment Management dan investor lainnya dalam jangka panjang?



