Jepang Gandakan Jam Pelajaran Informatika di SMP, Siapkan Generasi Melek AI
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pendidikan Jepang mengusulkan penambahan jam pelajaran Informatika menjadi 70 jam per tahun untuk siswa kelas 1 dan 2 SMP, dua kali lipat dari alokasi saat ini.
- Langkah ini merespons perkembangan kecerdasan buatan generatif, namun terkendala 25% guru teknologi belum memiliki lisensi mengajar yang sesuai.
- Kurikulum baru dijadwalkan berlaku penuh pada 2030, dengan sistem jam fleksibel yang bisa diterapkan lebih awal pada 2028.

Kementerian Pendidikan Jepang mengusulkan penggandaan jam pelajaran untuk mata pelajaran baru "Informasi dan Teknologi" di tingkat sekolah menengah pertama, dari sekitar 35 periode per tahun menjadi 70 periode. Langkah ini diambil untuk memperkuat literasi digital siswa di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan generatif.
Usulan tersebut disampaikan dalam sidang subkomite khusus Dewan Pendidikan Pusat, badan penasihat menteri pendidikan, yang tengah membahas revisi pedoman kurikulum nasional. Saat ini, materi informasi digital diajarkan dalam mata pelajaran "Teknologi dan Ekonomi Rumah Tangga" dengan porsi terbatas. Rencana baru akan menjadikan teknologi sebagai mata pelajaran mandiri, dengan alokasi 70 jam per tahun untuk siswa kelas 1 dan 2, serta 35 jam untuk kelas 3.
Meski jam pelajaran bertambah, tantangan terbesar adalah ketersediaan guru berkualifikasi. Survei kementerian pada tahun ajaran 2025 menunjukkan sekitar 25 persen guru teknologi di SMP tidak memiliki lisensi mengajar reguler di bidang tersebut. Tanpa program pelatihan dan rekrutmen yang masif, penambahan jam pelajaran justru berisiko menurunkan kualitas pengajaran.
Kementerian mempertahankan total jam pelajaran tahunan sebanyak 1.015 jam, termasuk untuk siswa kelas 4-6 SD. Untuk mengakomodasi mata pelajaran baru, jam pelajaran untuk mata pelajaran lain yang saat ini melebihi satu periode per minggu akan dikurangi secara bertahap. Langkah ini menuai kritik dari sebagian kalangan pendidik yang menginginkan pengurangan total jam belajar agar guru memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan siswa. Namun, kementerian bersikukuh bahwa pengurangan jam akan menghambat tercapainya "pembelajaran mendalam".
Subkomite juga membahas sistem "jam pelajaran yang dapat disesuaikan", yang memungkinkan pemendekan durasi setiap periode dan penggunaan waktu yang dihemat untuk proyek berbasis inkuiri khas daerah atau pelatihan guru. Rencananya, hingga 138 periode per tahun di SD dan 128 periode di SMP dapat digunakan dengan cara ini, setara dengan sekitar empat periode per minggu. Sistem ini dipertimbangkan untuk diterapkan lebih awal pada tahun ajaran 2028, bersamaan dengan program kurikulum khusus bagi siswa yang sering absen atau memiliki bakat luar biasa di bidang tertentu.
Bagi Indonesia, langkah Jepang ini menjadi cermin penting. Di tengah dorongan transformasi digital pendidikan nasional, kesenjangan kualifikasi guru dan beban kerja yang tinggi juga menjadi masalah serupa. Tanpa investasi serius pada pelatihan guru dan infrastruktur, penambahan jam pelajaran informatika hanya akan menjadi wacana tanpa dampak. Pertanyaan besarnya: apakah Indonesia siap mengikuti jejak Jepang, atau justru akan tertinggal dalam mencetak generasi yang melek AI?



