Pesawat Kepresidenan AS yang Baru Dikaruniai Qatar: Mewah Tapi Minim Perlindungan Rudal
Baca dalam 60 detik
- Presiden Trump terbang pulang dari Turki dengan pesawat Air Force One lama, sementara jet baru buatan Qatar yang dihadiahkan justru dikirim ke pangkalan militer Inggris untuk pamer ke tentara.
- Jet baru senilai 400 juta dolar itu disebut tidak dilengkapi sistem deteksi dan penangkal rudal yang setara dengan pesawat era Perang Dingin, memicu pertanyaan keamanan di tengah ketegangan AS-Iran.
- Pergantian pesawat terjadi sehari setelah AS melancarkan serangan besar ke Iran, dan transponder pesawat lama sempat dimatikan โ indikasi langkah pengamanan ekstra di wilayah berisiko tinggi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih terbang pulang dari KTT NATO di Turki dengan pesawat Air Force One lawas berwarna biru muda, bukan jet baru berkelir merah-putih-biru navy yang merupakan hadiah dari Qatar. Pergantian mendadak ini terjadi di tengah gelombang baru serangan balasan antara AS dan Iran, memicu spekulasi soal kesiapan keamanan armada kepresidenan termahal itu.
Trump hanya beralasan ingin menggunakan pesawat lama "untuk bernostalgia" dan menyebut kedua pesawat akan singgah di Pangkalan Udara Royal Air Force Mildenhall, Inggris, agar personel militer AS di sana bisa melihat langsung jet baru. Namun, langkah itu justru mengundang tanya: mengapa pesawat yang baru diresmikan seminggu sebelumnya dan telah menghabiskan dana retrofit 400 juta dolar AS itu tidak dipakai untuk perjalanan pulang presiden?
Analis penerbangan dan pertahanan menunjuk pada ketiadaan sistem pertahanan rudal di jet Qatari tersebut. Foto-foto yang beredar sejak peluncurannya menunjukkan pesawat Boeing 747-800 itu tidak dilengkapi dengan sejumlah antena komunikasi dan perangkat countermeasure yang lazim ada pada VC-25A buatan akhir Perang Dingin. Jeremiah Gertler, analis senior Teal Group, menilai pesawat itu lebih cocok digunakan untuk penerbangan domestik daripada misi ke zona konflik.
Keputusan ini diambil kurang dari 24 jam setelah militer AS melancarkan serangan besar ke sasaran Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal dagang di kawasan. Trump sendiri dalam konferensi pers mengaku selalu menjadi target nomor satu Iran, namun membantah faktor keamanan menjadi alasan pergantian pesawat. Ia justru menyebut perhentian di Mildenhall sudah direncanakan untuk menyenangkan personel militer.
Keanehan lain terungkap saat pesawat lama yang ditumpangi Trump lepas landas dari Turki. Transponder pesawat dimatikan selama beberapa waktu, sehingga tidak terlacak oleh aplikasi pelacak penerbangan komersial. Praktik ini biasanya diterapkan saat presiden bepergian ke zona perang, bukan ke negara sekutu NATO yang menggelar KTT terjadwal. Sebaliknya, pesawat pemimpin negara lain seperti Jerman dan Inggris tetap memancarkan sinyal transponder.
Juru bicara Gedung Putih Steven Cheung menyatakan bahwa jet baru telah dilengkapi protokol keamanan tingkat tinggi dan bahwa pihaknya menggunakan "setiap alat yang ada, termasuk pengalihan dan misinformasi" untuk menghadapi ancaman. Namun, Angkatan Udara AS sebelumnya mengakui bahwa beberapa modifikasi rumit sengaja dikecualikan dari pesawat "jembatan" ini agar bisa segera dioperasikan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa kemewahan dan diplomasi hadiah tidak selalu sejalan dengan kebutuhan keamanan. Di tengah rivalitas global yang kian panas, negara-negara yang menerima hibah alat utama sistem persenjataan (alutsista) perlu mencermati spesifikasi teknis secara detail, bukan sekadar nilai nominal atau prestise. Kasus Air Force One Qatari menunjukkan bahwa pesawat yang tampak canggih sekalipun bisa memiliki celah perlindungan yang signifikan.
Ke depan, publik akan menanti apakah jet baru itu akan menjalani retrofit tambahan untuk menyamai kemampuan pesawat era Perang Dingin, atau justru menjadi simbol bahwa kecepatan pengadaan kadang mengorbankan kesiapan tempur. Sementara itu, dua pesawat Boeing yang dimodifikasi sebagai pengganti permanen Air Force One diperkirakan baru akan siap pada 2028 โ enam tahun dari sekarang.



