IMF: Ekonomi Kamboja Melambat di 2026, Inflasi Meningkat Akibat Energi Mahal
Baca dalam 60 detik
- IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kamboja turun ke 3% pada 2026 dari 5,3% di 2025, dipicu energi mahal dan ketidakpastian perdagangan.
- Inflasi di Kamboja melonjak ke 5,6% pada 2026 akibat kenaikan harga energi, sementara sektor pariwisata dan properti masih lemah.
- Risiko perlambatan ekonomi Kamboja dapat berdampak pada rantai pasok regional, termasuk Indonesia yang memiliki hubungan dagang erat dengan negara ASEAN.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa ekonomi Kamboja, yang selama ini dikenal tangguh, akan mengalami perlambatan signifikan pada 2026. Proyeksi ini muncul di tengah tekanan harga energi global, ketidakpastian kebijakan perdagangan, dan lemahnya permintaan domestik yang menggerus sektor-sektor utama negeri itu.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Rabu (8/7), IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Kamboja hanya mencapai 3 persen pada 2026, turun drastis dari 5,3 persen pada tahun sebelumnya. Kenichiro Kashiwase, kepala misi IMF untuk Kamboja, menjelaskan bahwa pemulihan baru diharapkan terjadi pada 2027. Sektor andalan seperti garmen, alas kaki, pariwisata, dan properti disebut-sebut menjadi yang paling terpukul.
Kashiwase menambahkan, kenaikan harga energi yang tajam telah mendorong inflasi Kamboja melonjak menjadi rata-rata 5,6 persen pada 2026, dibandingkan 2,5 persen pada 2025. Inflasi diperkirakan akan mereda pada 2027, namun risiko tetap tinggi. "Risiko terhadap prospek ekonomi cenderung turun untuk pertumbuhan dan naik untuk inflasi," ujarnya. Faktor-faktor seperti volatilitas harga energi, dampak El Nino, dan ketidakpastian perdagangan global disebut sebagai ancaman utama.
Di sisi lain, investasi asing langsung (FDI) Kamboja masih tergolong kuat, dan cadangan devisa negara itu dinilai memadaiโsetara dengan delapan bulan impor. Nilai tukar riel Kamboja juga relatif stabil, menjadi jangkar nominal bagi perekonomian. Namun, Kashiwase menggarisbawahi kerentanan sektor keuangan domestik, kelemahan pasar properti, dan penurunan kualitas aset sebagai risiko internal yang perlu diwaspadai.
Bagi Indonesia, perlambatan ekonomi Kamboja patut dicermati. Sebagai sesama anggota ASEAN, hubungan dagang kedua negara cukup erat, terutama di sektor tekstil dan produk pertanian. Pelemahan permintaan Kamboja berpotensi menekan ekspor Indonesia, meskipun dampaknya diperkirakan tidak sebesar dari mitra dagang utama seperti China atau Amerika Serikat. Selain itu, stabilitas kawasan Asia Tenggara juga bergantung pada kesehatan ekonomi masing-masing negara anggota.
Ke depan, IMF menekankan pentingnya diversifikasi ekonomi dan penguatan sektor keuangan bagi Kamboja untuk menghadapi guncangan eksternal. Pertanyaannya, mampukah Phnom Penh melakukan reformasi struktural di tengah tekanan politik dan sosial yang ada? Atau akankah perlambatan ini menjadi sinyal peringatan bagi negara-negara ASEAN lain yang juga bergantung pada ekspor komoditas dan pariwisata?



