Rupiah Terus Merosot, Sejumlah Bank Masih Jual Dolar di Kisaran Rp18.385
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,33% ke Rp18.050 per dolar AS pada Kamis (9/7/2026), melanjutkan tren negatif dari penutupan sebelumnya.
- Beberapa bank nasional masih menawarkan kurs jual dolar di kisaran Rp18.385, memberikan opsi bagi masyarakat yang membutuhkan valas.
- Pelemahan rupiah dipengaruhi faktor global dan domestik, mendorong pelaku pasar untuk mencermati kebijakan Bank Indonesia ke depan.

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (9/7/2026), dengan posisi pembukaan di level Rp18.050/US$ atau melemah 0,33% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang terjadi pada perdagangan sebelumnya, saat rupiah ditutup di Rp17.990/US$ setelah terdepresiasi 0,11%.
Meski rupiah terus merosot, sejumlah bank nasional masih mempertahankan kurs jual dolar yang relatif kompetitif. Berdasarkan data yang dihimpun hingga pukul 14.00 WIB, beberapa bank menawarkan harga jual dolar di kisaran Rp18.385 per dolar AS. Angka ini tidak jauh berbeda dari nilai tukar pasar, memberikan sedikit kelonggaran bagi masyarakat yang hendak membeli valas untuk kebutuhan perjalanan, impor, atau investasi.
Kondisi ini menjadi perhatian bagi pelaku pasar dan masyarakat luas, terutama mereka yang memiliki eksposur terhadap mata uang asing. Pelemahan rupiah yang berkelanjutan dapat berdampak pada harga barang impor, inflasi, dan daya beli masyarakat. Di sisi lain, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih bernilai dalam rupiah.
Menurut analis pasar uang, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi oleh sentimen global, termasuk ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan ketidakpastian ekonomi global. Di dalam negeri, tekanan juga datang dari defisit transaksi berjalan dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia dinilai perlu mengambil langkah stabilisasi untuk mencegah pelemahan lebih dalam.
Bagi masyarakat yang berencana membeli dolar, perbedaan kurs antar bank menjadi pertimbangan penting. Beberapa bank seperti BCA, Mandiri, dan BNI menawarkan kurs jual yang hampir sama, sementara bank asing seperti HSBC dan MUFG memiliki selisih yang sedikit lebih lebar. Penting untuk membandingkan kurs secara real-time sebelum melakukan transaksi.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat tergantung pada data ekonomi AS dan kebijakan moneter domestik. Jika tekanan berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah akan menguji level Rp18.200/US$ dalam waktu dekat. Pertanyaannya, apakah Bank Indonesia akan kembali mengintervensi pasar atau membiarkan mekanisme pasar bekerja?



