IHSG Menguat Tipis, Asing Justru Jual Bersih Rp221 Miliar — BBRI Paling Dibuang
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net sell Rp221,68 miliar di seluruh pasar pada sesi I Kamis (9/7/2026), dipimpin aksi jual besar-besaran terhadap BBRI.
- Saham MBMA menjadi primadona dengan net buy Rp262,08 miliar, kontras dengan tekanan jual di sektor perbankan dan ritel.
- IHSG ditutup menguat 0,21% ke 5.885,69, namun arus modal asing keluar menunjukkan sentimen risiko global masih membayangi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau pada sesi pertama perdagangan Kamis (9/7/2026), naik 12,32 poin atau 0,21% ke level 5.885,69. Namun di balik penguatan tipis itu, investor asing justru membukukan aksi jual bersih yang cukup deras, menandakan bahwa optimisme pasar belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, nilai net foreign sell di seluruh pasar mencapai Rp221,68 miliar. Total transaksi asing pada sesi I tercatat Rp4,32 triliun, dengan rincian pembelian Rp2,05 triliun dan penjualan Rp2,27 triliun. Artinya, meski IHSG menghijau, tekanan jual dari investor global masih mendominasi.
Saham perbankan pelat merah menjadi sasaran utama aksi jual. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatat net sell tertinggi sebesar Rp138,39 miliar, diikuti PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) yang dilepas asing senilai Rp73,71 miliar. Tekanan juga terlihat pada PT Astra International Tbk. (ASII) sebesar Rp30,39 miliar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) Rp27,46 miliar, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) Rp18,77 miliar.
Menariknya, di tengah derasnya arus keluar, investor asing justru memborong saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp262,08 miliar — jauh melampaui aksi jual terbesar sekalipun. Langkah ini mengindikasikan bahwa asing masih selektif, memilih saham-saham yang terkait dengan rantai pasok baterai kendaraan listrik yang prospektif. Saham lain yang diburu antara lain PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) Rp53,96 miliar, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) Rp19,42 miliar, dan PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) Rp7,19 miliar.
Bagi investor ritel di Indonesia, pola pergerakan asing ini memberikan sinyal penting. Tekanan jual di saham perbankan dan konglomerasi menunjukkan kekhawatiran terhadap prospek suku bunga dan perlambatan ekonomi global. Sementara itu, akumulasi di sektor baterai dan energi hijau mencerminkan keyakinan jangka panjang pada transisi energi. Pengamat pasar menilai bahwa aksi jual asing kemungkinan masih akan berlanjut dalam jangka pendek seiring ketidakpastian kebijakan moneter bank sentral AS dan fluktuasi harga komoditas.
Daftar lengkap net foreign buy dan sell pada sesi I Kamis ini memperkuat gambaran divergensi sektoral. Di satu sisi, saham-saham defensif dan berkapitalisasi besar seperti BBRI, ASII, dan TLKM dilego. Di sisi lain, saham-saham berbasis sumber daya dan energi baru justru dikoleksi. Pertanyaannya, akankah tren ini bertahan hingga akhir pekan, atau justru berbalik arah jika muncul katalis positif dari dalam negeri?



