Mentan Amran Yakin Metode Tanam Modern Dongkrak Pendapatan Petani hingga Rp16 Juta per Bulan
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengklaim metode PM-AAS mampu meningkatkan pendapatan petani dari Rp5 juta menjadi Rp16,3 juta per bulan.
- Uji coba pada 1.600 hektare lahan menunjukkan produktivitas padi mencapai 9-12 ton per hektare, jauh di atas rata-rata nasional 5,5 ton.
- Pemerintah menargetkan perluasan metode ini ke berbagai provinsi untuk mendongkrak produksi beras nasional hingga 5 juta ton tambahan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memproyeksikan pendapatan petani dapat melonjak tiga kali lipat menjadi Rp16,3 juta per bulan melalui penerapan metode tanam modern yang disebut Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS). Klaim ini disampaikan dalam konferensi pers di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Kamis (9/7), sebagai bagian dari strategi akselerasi intensifikasi pertanian.
Amran menjelaskan, metode yang telah diuji coba selama dua tahun di lahan seluas 1.600 hektare ini mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 9โ12 ton per hektare, sementara rata-rata nasional saat ini hanya sekitar 5,5 ton per hektare. Dengan pola tanam tiga kali setahun di lahan irigasi, ia optimistis target produksi gabah tambahan sebesar 9 juta ton atau setara 5 juta ton beras dapat tercapai jika metode ini diterapkan pada 1 juta hektare lahan.
Menurut Amran, PM-AAS bukanlah varietas benih baru, melainkan kombinasi sistem tanam jajar legowo dengan teknik budidaya yang diadaptasi dari praktik pertanian di berbagai negara, termasuk Arkansas. Metode ini menggantikan proses persemaian dan pindah tanam dengan sistem direct seeding atau tanam langsung, sehingga mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Selain itu, teknologi digital seperti drone untuk pemupukan dan pengendalian hama turut diintegrasikan.
Meskipun biaya produksi per hektare meningkat dari Rp13 juta menjadi Rp15 juta, Amran menegaskan bahwa kenaikan hasil panen yang signifikan membuat keuntungan bersih petani justru berlipat. "Dulu untungnya Rp5 juta, sekarang bisa Rp16 juta," ujarnya. Ia menambahkan, transformasi pertanian modern harus berorientasi pada kesejahteraan petani agar mereka termotivasi untuk terus menanam.
Kementerian Pertanian telah menggelar proyek percontohan di sejumlah daerah seperti Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Lampung, Sukamandi, dan Merauke. Ke depan, metode ini akan diperluas secara bertahap dengan penyesuaian terhadap karakteristik lahan setempat. Pertanyaannya, sejauh mana kesiapan infrastruktur irigasi dan adopsi petani di lapangan mampu mengimbangi ambisi target produksi yang dicanangkan?



