Zverev Lepas dari Bayang-bayang, Bidik Gelar Ganda Roland Garros-Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Alexander Zverev sukses menembus semifinal Wimbledon untuk pertama kalinya setelah mengatasi tekanan mental dan kemenangan di Prancis Terbuka.
- Petenis Jerman itu berpeluang menjadi orang ketujuh di era profesional yang meraih gelar ganda Roland Garros-Wimbledon dalam satu tahun.
- Zverev akan menghadapi tantangan Arthur Fery yang didukung penuh publik tuan rumah, namun ia mengaku siap secara mental dan pengalaman.

Alexander Zverev akhirnya mampu melepaskan diri dari jeratan masa lalu yang kelam. Setahun setelah tersingkir di babak pertama Wimbledon dan mengaku hidup dalam kesepian serta membutuhkan terapi, petenis Jerman itu kini melaju ke semifinal All England Club untuk pertama kalinya. Kemenangan di Prancis Terbuka bulan lalu menjadi titik balik yang membebaskannya dari beban psikologis yang selama ini menghantuinya.
Zverev, yang kini berusia 30 tahun, hanya membutuhkan dua kemenangan lagi untuk bergabung dengan jajaran elite petenis yang sukses meraih gelar ganda Roland Garros-Wimbledon dalam tahun yang sama. Hanya enam orang yang pernah melakukannya di era profesional: Rod Laver, Bjorn Borg, Roger Federer, Rafael Nadal, Novak Djokovic, dan Carlos Alcaraz. Langkah pertamanya adalah mengalahkan petenis Inggris peringkat 114, Arthur Fery, yang lolos sebagai wild card dan menjadi dongeng bagi publik tuan rumah.
Meski secara peringkat Zverev unggul jauhโ111 posisi di atas Feryโia tak meremehkan lawan. Dukungan penuh penonton Wimbledon untuk Fery bisa menjadi tekanan tersendiri. Namun Zverev mengaku sudah berpengalaman menghadapi berbagai jenis penonton, termasuk yang paling tidak bersahabat. "Saya hampir 30 tahun, sudah cukup lama di tur. Saya merasa sudah melihat penonton paling bermusuhan, paling berat, dan paling tidak adil. Saya tahu cara menghadapinya," ujarnya usai mengalahkan Taylor Fritz di perempat final.
Konteks Indonesia: Prestasi Zverev menjadi pengingat betapa pentingnya dukungan mental dalam olahraga. Di Indonesia, isu kesehatan mental atlet mulai mendapat perhatian, meski masih minim penanganan profesional. Kisah Zverev yang berhasil bangkit dari depresi dan tekanan kompetisi bisa menjadi inspirasi bagi atlet-atlet Tanah Air yang kerap menghadapi tekanan serupa tanpa dukungan psikologis yang memadai.
Zverev juga sadar bahwa tekanan terbesar justru datang dari ekspektasi diri sendiri. "Orang mungkin terlalu memikirkannya. Ini hanya pertandingan tenis lainnya. Tentu ini pertandingan besar, ada banyak yang dipertaruhkan. Tapi pada akhirnya, saya belajar bahwa pertandingan tetaplah pertandingan. Tidak ada yang mati. Hidup akan terus berjalan," katanya dengan nada filosofis.
Pertandingan semifinal antara Zverev dan Fery akan berlangsung Jumat (12/7) waktu setempat. Jika berhasil melewati Fery, Zverev akan berhadapan dengan pemenang antara Novak Djokovic dan Jannik Sinner di partai puncak. Bisakah Zverev mengulang sukses Michael Stich yang menjadi juara Wimbledon terakhir dari Jerman pada 1991? Atau justru dongeng Arthur Fery yang akan berakhir manis di hadapan publik sendiri?



