IHSG Tertekan Konflik Iran-AS, IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Global
Baca dalam 60 detik
- IHSG dibuka melemah 0,34% ke 5.853,62 pada Kamis (9/7) di tengah eskalasi militer AS-Iran dan revisi turun proyeksi ekonomi global oleh IMF.
- Serangan AS ke Iran di Selat Hormuz dan ancaman balasan Teheran mendorong harga minyak Brent ke US$79,28, menekan pasar saham emerging market termasuk Indonesia.
- IMF memangkas proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 3% dan menaikkan inflasi jadi 4,7%, namun tetap mempertahankan target pertumbuhan Indonesia 5,0%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Kamis (9/7/2026) dengan tekanan jual yang dominan, merosot 19,75 poin atau 0,34% ke level 5.853,62, seiring investor mencerna eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran serta revisi suram Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap prospek ekonomi dunia.
Tekanan di bursa saham Indonesia bukanlah fenomena isolatif. Pasar keuangan domestik tengah bergulat dengan gelombang sentimen negatif dari Timur Tengah yang kian memanas. Militer AS melalui Komando Pusat (CENTCOM) melancarkan serangan udara ke kota-kota pesisir selatan Iran pada Rabu (8/7), termasuk Bandar Abbas, Konarak, dan Chabahar, sebagai pembalasan atas serangan terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara dengan Iran telah kandas dan mengancam respons yang lebih keras. Iran, melalui media pemerintah, mengisyaratkan serangan balasan besar terhadap pangkalan AS di kawasan, bahkan mempertimbangkan langkah ekstrem seperti keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) atau menutup Selat Bab el-Mandeb.
Ketegangan geopolitik ini langsung mendongkrak harga minyak mentah Brent lebih dari US$1 per barel menjadi US$79,28. Bagi Indonesia, yang masih menjadi importir minyak netto, lonjakan harga energi berarti beban subsidi dan defisit neraca perdagangan yang lebih besar, serta potensi tekanan inflasi impor. Di sisi lain, investor asing cenderung menghindari aset berisiko di negara berkembang saat ketidakpastian global meninggi, sehingga IHSG dan rupiah berpotensi tertekan lebih lanjut.
Di tengah hiruk-pikuk geopolitik, IMF merilis laporan World Economic Outlook (WEO) terbaru yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3%, turun signifikan dari 3,5% pada 2025. Lembaga multilateral itu menyebut konflik AS-Israel-Iran sebagai risiko utama, di samping lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik yang menghambat investasi dan perdagangan. Meski demikian, IMF mencatat investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital masih menjadi penopang aktivitas ekonomi global, sehingga dampak negatif konflik bisa sedikit diredam.
Proyeksi inflasi global juga direvisi naik menjadi 4,7% pada 2026, didorong oleh kenaikan tajam harga komoditas energi. IMF mengasumsikan harga minyak rata-rata US$89 per barel tahun ini, sekitar 25% lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang pecah pada akhir Februari lalu. Bagi Indonesia, proyeksi pertumbuhan ekonomi tetap dipertahankan di 5,0% untuk 2026 dan 5,1% untuk 2027, meskipun risiko eksternal yang membayangi bisa menguji ketahanan fundamental domestik.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana konflik Iran-AS akan memengaruhi stabilitas pasar keuangan Indonesia dalam jangka pendek. Jika harga minyak terus merangkak naik dan ketegangan geopolitik tak kunjung mereda, tekanan terhadap IHSG dan rupiah bisa berlanjut. Namun, pertumbuhan ekonomi yang relatif solid dan konsumsi domestik yang kuat diyakini masih menjadi bantalan bagi pasar saham Indonesia. Investor kini menanti data ekonomi domestik selanjutnya serta perkembangan diplomasi di Timur Tengah sebagai penentu arah IHSG ke depan.



