Kisah Cinta di Balik Legenda Tahu Sumedang: Dari Rindu Istri hingga Bisnis Laris
Baca dalam 60 detik
- Rasa sayang seorang suami pada istrinya menjadi cikal bakal lahirnya tahu Sumedang, camilan ikonik yang kini tersebar di berbagai kota.
- Ong Ki No, imigran asal China, rela berkeliling mencari kedelai di Sumedang demi memenuhi permintaan sang istri yang merindukan tahu.
- Inovasi menggoreng tahu oleh putranya, Ong Bung Keng, dan dukungan Bupati Sumedang mengubah usaha rumahan menjadi bisnis legendaris.

Di balik kelezatan tahu Sumedang yang renyah dan gurih, tersimpan kisah cinta seorang suami pada istrinya yang menjadi motor utama lahirnya bisnis kuliner legendaris ini. Berawal dari rasa sayang yang mendalam, Ong Ki No, seorang imigran asal China, memulai petualangan mencari bahan baku di tanah yang asing untuk memenuhi kerinduan istrinya akan makanan khas negeri asal.
Kisah ini bermula pada awal 1900-an, saat Ong Ki No dan istrinya menetap di Sumedang. Sang istri sangat menyukai tao-fu, atau tahu, namun tidak bisa menikmatinya karena kedelai tidak tersedia di daerah tersebut. Menurut peneliti BRIN, M. Luthfi Khair A. dan Rusydan Fath, dalam buku "Tahu Sejarah Tahu Sumedang" (2021), Ong Ki No rela berkeliling mencari kedelai di wilayah yang masih asing baginya demi sang istri.
Setelah pencarian yang panjang, ia menemukan kebun kedelai di Conggeang. Kedelai pun diolah menjadi tahu putih rebus, yang langsung disukai istrinya. Ong bahkan hampir setiap hari memasak tahu sebagai santapan utama, dan kadang membagikannya secara gratis kepada tetangga atau menjualnya di lapak kecil. Namun, usaha ini tidak berjalan mulus; lidah mayoritas warga Sumedang tidak cocok dengan tahu rebus buatannya. Omzet menurun, dan pada 1917, Ong serta istrinya memutuskan pulang ke China.
Di tahun yang sama, putra mereka, Ong Bung Keng, datang ke Sumedang untuk meneruskan bisnis. Berbekal kegagalan orang tuanya, ia berpikir keras agar tahu lebih menarik. Ide menggoreng tahu putih pun muncul. Hasilnya, tahu menjadi garing, berongga, dan lebih gurih, dengan aroma wangi yang menggoda. Meskipun banyak yang menyukai, Ong Bung Keng belum berniat menjualnya.
Pada 1928, Bupati Sumedang, Pangeran Soeriaatmadja, tidak sengaja mencium aroma tahu goreng saat melintas. Ia berhenti, mencicipi, dan langsung meminta Ong menjual tahu tersebut karena yakin akan laku. Sejak saat itu, tahu goreng dijual dengan harga 1,5 sen dan langsung laris manis, mengubah ekonomi keluarga Ong menjadi makmur.
Kisah ini menjadi bukti bahwa cinta dan kegigihan bisa melahirkan warisan kuliner yang bertahan lebih dari seabad. Bagi Indonesia, tahu Sumedang bukan sekadar camilan, melainkan simbol bagaimana inovasi sederhana dan dukungan komunitas mampu mengubah nasib. Pertanyaannya, berapa banyak lagi potensi bisnis lokal yang lahir dari kisah cinta dan ketekunan yang belum terungkap?



