Pabrik Plastik di Tangerang Ludes Terbakar, Kerugian Tembus Rp2 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran melanda pabrik pengolahan plastik di Pakuhaji, Tangerang, Kamis dini hari, menghanguskan hampir seluruh bangunan.
- Tidak ada korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan mencapai Rp2 miliar; penyebab masih dalam penyelidikan.
- Proses pemadaman relatif lancar berkat pasokan air dari Sungai Cisadane, dengan 13 unit mobil damkar dikerahkan.

Kebakaran hebat meludeskan sebuah pabrik pengolahan plastik di Jalan Raya Kalibaru, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Kamis (9/7) dini hari. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 00.00 WIB itu memicu kepanikan warga dan puluhan karyawan yang sedang bekerja di dalam pabrik. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian material diperkirakan menembus angka Rp2 miliar.
Kobaran api dengan cepat membesar dan melalap hampir seluruh area pabrik. Material plastik yang mudah terbakar membuat api merambat dengan kecepatan tinggi. Warga sekitar melaporkan beberapa kali terdengar suara ledakan dari dalam pabrik, yang diduga berasal dari bahan baku plastik yang terbakar. Sejumlah karyawan terlihat berlarian keluar menyelamatkan diri, sementara warga berusaha menjauh dari lokasi.
Komandan Pos Pemadam Kebakaran Pakuhaji, Oni Sahroni, mengatakan pihaknya menerima laporan kebakaran pada pukul 00.00 WIB. Sebanyak 13 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk mengendalikan api. Hingga pukul 02.00 WIB, petugas masih berjibaku memadamkan sisa-sisa kobaran. "Alhamdulillah, api tidak merambat ke permukiman warga," ujar Oni.
Proses pemadaman relatif tidak mengalami kendala karena lokasi pabrik berada di dekat Sungai Cisadane, sehingga pasokan air mencukupi. Namun, petugas masih kesulitan memastikan titik awal api karena saat tiba di lokasi, api sudah dalam kondisi membesar. "Penyebab kebakaran belum diketahui karena saat kami tiba api sudah membesar," kata Oni.
Kebakaran pabrik plastik di kawasan industri Tangerang kembali menyoroti risiko tinggi yang melekat pada industri pengolahan bahan mudah terbakar. Menurut catatan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tangerang, sepanjang tahun 2024 terjadi sedikitnya 15 kebakaran di pabrik-pabrik di wilayah tersebut, dengan sebagian besar disebabkan oleh korsleting listrik dan kelalaian penanganan bahan baku. Peristiwa kali ini pun masih dalam penyelidikan pihak kepolisian untuk memastikan penyebab pastinya.
Luas area yang terbakar masih dalam proses pendataan oleh petugas. Oni memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. "Korban jiwa nihil. Untuk luas area yang terdampak masih kami data," pungkasnya. Sementara itu, pemilik pabrik belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini.
Ke depan, insiden ini menjadi pengingat bagi para pelaku industri untuk memperketat sistem keselamatan kebakaran, terutama di pabrik yang mengolah material mudah terbakar. Apakah regulasi dan pengawasan yang ada saat ini sudah cukup untuk mencegah tragedi serupa? Pertanyaan itu layak dijawab oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.



