Menghentikan Haaland: Misi Inggris di Perempat Final Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Inggris harus memutus suplai bola ke Erling Haaland untuk meredam ketajaman penyerang Norwegia yang telah mencetak tujuh gol di Piala Dunia.
- Gelandang Morgan Rogers mengakui tantangan besar, tetapi optimisme tim meningkat setelah kemenangan dramatis melawan Meksiko.
- Pengalaman pemain Inggris menghadapi Haaland di Premier League bisa menjadi modal berharga di laga hidup mati nanti.

Kanselir Inggris, Thomas Tuchel, menghadapi ujian terberatnya di Piala Dunia 2026: menghentikan mesin gol Norwegia, Erling Haaland. Dengan tujuh gol sudah dikantongi sang penyerang di turnamen ini, lini pertahanan The Three Lions harus bekerja ekstra keras di Miami, Sabtu (10/7) mendatang.
Haaland, yang selama empat musim terakhir menjadi momok bagi klub-klub Premier League bersama Manchester City, bukanlah lawan asing bagi sebagian besar pemain Inggris. Namun, keakraban itu tidak otomatis menjadi jaminan. Kombinasi kekuatan fisik, kecepatan, dan penyelesaian akhir yang mematikan membuatnya dijuluki sebagai salah satu penyerang paling ditakuti di dunia.
Gelandang Inggris Morgan Rogers, yang sehari-hari bermain untuk Aston Villa, mengakui sulitnya membungkam Haaland. “Apakah ada yang pernah benar-benar menghentikannya? Saya rasa belum. Tapi kami akan mencoba,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (8/7). Rogers menekankan bahwa kunci utamanya adalah memotong jalur suplai bola ke Haaland. “Kami harus menghentikan cara bola sampai kepadanya, karena ia begitu mematikan di depan gawang.”
Menariknya, Aston Villa—klub Rogers—berhasil menjaga Haaland tanpa gol dalam empat kunjungan terakhir Manchester City ke Villa Park. Meski Rogers menyebutnya sebagai keberuntungan, catatan itu setidaknya memberi sedikit gambaran bahwa Haaland bisa diredam. Namun, ia juga mengingatkan bahwa Norwegia tidak hanya berisi Haaland. Martin Odegaard, kapten Arsenal yang juga rekan setim Haaland di tim nasional, menjadi ancaman lain yang tak boleh diabaikan.
Kemenangan dramatis 3-2 atas Meksiko di babak 16 besar, meski harus bermain dengan 10 pemain sejak menit awal, menjadi suntikan moral besar bagi skuad Inggris. Pertandingan itu disebut-sebut sebagai salah satu penampilan terbaik Inggris di Piala Dunia dalam beberapa tahun terakhir. Rogers mengaku tim kelelahan setelah laga tersebut, tetapi semangat untuk terus melaju tetap membara. “Pesan kami di latihan pertama adalah: kami akan lakukan lagi, kami akan dapatkan lebih banyak, dan kami masih bisa meningkat,” katanya.
Kabar baik lainnya datang dari Jordan Henderson. Gelandang veteran itu kembali bergabung dengan skuad setelah menjalani operasi pada lengan yang cedera saat selebrasi usai laga melawan Meksiko. Rogers menyambut positif kehadiran Henderson, yang ia sebut sebagai “jantung” tim. “Dia tersenyum, tetap ceria meski baru mengalami operasi. Itu menunjukkan karakternya,” ujar Rogers.
Di luar lapangan, tradisi baru mewarnai perjalanan Inggris di Piala Dunia ini. Para suporter dan pemain kompak menyanyikan lagu “Wonderwall” dari Oasis usai pertandingan. Rogers, yang ditanya apakah hafal liriknya, tertawa. “Saya rasa Anda tidak bisa disebut orang Inggris jika tidak tahu lirik lagu itu. Semua orang harus hafal. Kalau belum, cepat pelajari,” katanya.
Bagi Indonesia, laga ini juga menarik untuk dicermati. Dengan banyaknya pemain Indonesia yang merumput di Eropa, pertandingan semacam ini menjadi tolok ukur level persaingan sepak bola global. Selain itu, gaya bermain Haaland yang langsung dan efisien bisa menjadi pelajaran bagi para striker muda Indonesia yang ingin berkarier di luar negeri.
Pertanyaan besarnya: akankah Inggris mampu memutus rantai suplai ke Haaland dan melangkah ke semifinal, atau justru sang penyerang Norwegia yang akan kembali menunjukkan keganasannya? Jawabannya akan diketahui dalam 90 menit di Miami.



