Gajah Robot Mulai Gantikan Gajah Asli di Kuil India: Antara Tradisi dan Kesejahteraan Hewan
Baca dalam 60 detik
- PETA dan organisasi lain telah mendonasikan sekitar 40 gajah robotik ke kuil-kuil di India sebagai alternatif pengganti gajah hidup dalam ritual keagamaan.
- Gajah robotik buatan Prasanth Prakashan ini dirancang menyerupai gajah asli, namun belum bisa berjalan; pengembang berupaya menyempurnakannya.
- Langkah ini memicu perdebatan sengit antara kelompok pecinta hewan yang mendukung pengurangan penderitaan gajah dan kalangan tradisionalis yang menganggap gajah hidup tak tergantikan dalam ritual.

Sebuah revolusi sunyi tengah terjadi di pelataran kuil-kuil Kerala, India selatan: gajah robotik mulai menggantikan peran gajah hidup dalam prosesi dan ritual keagamaan. Langkah yang didorong oleh kelompok pecinta hewan ini tidak hanya mengubah wajah peribadatan, tetapi juga membuka luka lama antara tradisi dan kesejahteraan satwa.
Di balik tembok bengkel Prasanth Prakashan di Kochi, puluhan gajah robotik berukuran nyata sedang dirakit. Dengan tubuh dari fiberglass, besi, dan karet, hewan buatan ini mampu menggerakkan telinga, ekor, dan menyemburkan air dari belalainya—meski gerakannya masih kaku dan jauh dari keanggunan gajah sungguhan. Prasanth, seorang insinyur mesin, mengakui keterbatasan ciptaannya. "Anda tidak bisa menciptakan gajah asli, sama seperti Anda tidak bisa menduplikasi manusia," ujarnya. Namun, ia optimistis suatu hari nanti gajah robotnya bisa berjalan. "Saya sedang mengusahakannya," katanya sambil tersenyum.
Inisiatif ini berawal dari video viral gajah robotik di sebuah festival Dubai pada 2023 yang menarik perhatian PETA India. Organisasi tersebut kemudian menghubungi Prasanth dan seniman patung gajah, Sooraj Nambiat, untuk membuat versi robotik bagi kuil-kuil. Hingga kini, sekitar 40 gajah robotik—masing-masing seharga sekitar US$6.000 (Rp97 juta)—telah didonasikan ke berbagai kuil di India. Proses pembuatan satu gajah robotik memakan waktu sekitar 15 hari, dengan detail yang dikerjakan secara manual oleh seniman, mulai dari kulit keriput hingga urat yang menonjol di telinga.
Bagi para aktivis kesejahteraan hewan, kehadiran gajah robotik adalah angin segah. Khushboo Gupta, Wakil Presiden Kebijakan PETA India, menegaskan bahwa daya tarik estetika gajah hidup tidak sebanding dengan penderitaan yang mereka alami. "Gajah-gajah ini dipaksa berdiri berjam-jam di bawah terik matahari, di tengah keramaian, suara genderang, dan kembang api. Pemicu sekecil apa pun bisa membuat mereka mengamuk," katanya. Data menunjukkan bahwa pada 2024, sembilan orang tewas akibat amukan gajah dalam festival kuil di Kerala. Dari sekitar 2.500 gajah yang ditangkarkan di India, hampir 400 ekor berada di Kerala—jumlah yang menurun setengahnya sejak 2010.
Namun, di kalangan tradisionalis, gagasan menggantikan gajah hidup dengan robot dianggap sebagai penghinaan terhadap tradisi berusia berabad-abad. K. Mahesh, yang menyewakan gajah aslinya untuk festival sekitar 45 hari setahun, menegaskan bahwa gajah adalah hewan suci. "Jika Anda tidak percaya gajah itu suci, apa gunanya gajah robotik di kuil?" ujarnya. Mahesh telah memelihara gajahnya selama 25 tahun dan menganggapnya seperti anggota keluarga. Sementara itu, beberapa pengurus kuil menolak mentah-mentah penggunaan gajah robotik dalam ritual. Sooraj Nambiat, seniman patung gajah, mengaku tidak bisa lagi menghadiri festival kuil karena banyak yang membenci karyanya. "Ini pekerjaan saya... saya tidak bermaksud merusak tradisi mereka. Tapi jika kita tidak berhenti memperlakukan gajah sebagai komoditas, generasi mendatang tidak akan memiliki mereka," katanya.
Di tengah perdebatan, sejumlah kuil justru menyambut baik inovasi ini. Rajkumar Namboothiri, pendeta kepala Kuil Irinjadapilly Sree Krishna, mengatakan bahwa anak-anak kini bisa bermain dan memeluk belalai gajah robotik dengan bebas—hal yang mustahil dilakukan dengan gajah hidup. Ia merujuk pada teks tantra yang mengatur ritual di kuil Kerala, yang tidak mewajibkan penggunaan gajah hidup. Menurutnya, praktik tersebut baru muncul beberapa abad lalu ketika gajah menjadi bagian dari pasukan kerajaan. "Dulu mereka punya pohon dan hutan. Sekarang kita punya hutan beton, panas, dan kebisingan... Gajah-gajah disiksa dan dianiaya. Itu tidak benar," tegasnya.
KI Purushottaman, presiden Kuil Cheekamundi Sri Mahavishnu di Thrissur, mengaku gajah robotik telah memberinya ketenangan pikiran. "Dengan gajah robotik, kami tidak memiliki rasa takut itu," katanya merujuk pada kemungkinan serangan gajah yang mematikan. Namun, ia dan pengurus kuil lainnya tetap waspada terhadap reaksi umat yang mungkin belum siap menerima perubahan.
Bagi Indonesia, kisah ini relevan mengingat tradisi menggunakan gajah dalam upacara keagamaan juga ditemukan di beberapa daerah, seperti di Sumatera dan Kalimantan. Meski tidak semasif di India, isu kesejahteraan gajah tangkaran di Indonesia juga menjadi perhatian. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat sekitar 50 gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) berada di pusat konservasi dan tempat penangkaran. Belum ada wacana penggunaan gajah robotik di Indonesia, namun perdebatan etis antara tradisi dan kesejahteraan hewan bisa menjadi pelajaran berharga.
PS Easa, ahli biologi satwa liar dan pakar gajah dari Kerala, yang turut merancang peraturan penangkaran gajah di negara bagian itu, meragukan gajah robotik akan diterima dalam waktu dekat. "Anda tidak bisa mengubah tradisi berusia berabad-abad dalam waktu singkat. Tapi siapa tahu? Mungkin jika gajah robotik ini bisa mulai berjalan," ujarnya. Pertanyaannya, mampukah teknologi menjembatani kesenjangan antara kesakralan tradisi dan tuntutan kesejahteraan hewan? Atau justru akan memicu perpecahan yang lebih dalam?



