Emisi Karbon Temasek Diprediksi Naik: Target 2030 Makin Sulit Tercapai
Baca dalam 60 detik
- Temasek Holdings melaporkan emisi karbon portofolionya stagnan di 21 juta ton CO₂e selama tiga tahun terakhir, dan diperkirakan akan meningkat dalam waktu dekat.
- Target pengurangan emisi 50% pada 2030 dari level 2010 semakin sulit karena hambatan di sektor penerbangan dan energi, serta perubahan geopolitik dan kebijakan global.
- Investor asal Singapura itu kini beralih ke skenario iklim 2,4°C yang lebih realistis dan fokus pada investasi teknologi rendah karbon, bukan sekadar divestasi aset beremisi tinggi.

Emisi karbon portofolio Temasek Holdings diprediksi akan meningkat dalam waktu dekat, menandai tantangan berat bagi investor negara Singapura itu untuk mencapai target net-zero pada 2050. Dalam laporan keberlanjutan 2026 yang dirilis Rabu (8/7), perusahaan mengungkapkan bahwa jejak karbonnya tidak berubah selama tiga tahun terakhir, yakni 21 juta ton setara CO₂ (tCO₂e). Padahal, target antara yang ditetapkan sebelumnya adalah menurunkan emisi menjadi 11 juta tCO₂e pada 2030.
Chief Sustainability Officer Temasek, Park Kyung-Ah, mengakui bahwa lanskap global telah berubah drastis sejak target iklim pertama kali ditetapkan pada 2019. “Jalan menuju dekarbonisasi menjadi jauh lebih kompleks,” ujarnya, merujuk pada fragmentasi geopolitik, perubahan kebijakan, kondisi modal yang lebih ketat, serta disruptif teknologi yang dipacu kecerdasan buatan. Faktor-faktor makro ini, ditambah kesulitan menskalakan solusi di sektor-sektor yang sulit ditekan emisinya (hard-to-abate), telah menggerus optimisme terhadap target antara perusahaan.
Pernyataan Park menggemakan pengakuan CEO Temasek, Dilhan Pillay Sandrasegara, pada ajang Ecosperity Week awal tahun ini, bahwa target 2030 kemungkinan besar tidak akan tercapai. Dua sektor utama yang menjadi biang keladi adalah penerbangan dan pembangkit listrik. Singapore Airlines (SIA) dan Sembcorp Industries, dua emiten terbesar di portofolio Temasek, menyumbang hampir dua pertiga total emisi perusahaan. Secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan yang berbasis di Singapura—meski hanya mewakili 43% nilai portofolio—menyumbang 89% total emisi.
Kenaikan emisi jangka pendek terutama didorong oleh akuisisi Sembcorp atas perusahaan energi Australia, Alinta Energy. Meskipun Alinta memiliki pipa proyek energi terbarukan lebih dari 10 gigawatt, akuisisi itu juga mencakup pembangkit listrik tenaga batu bara cokelat yang akan meningkatkan emisi dalam waktu dekat. Sementara itu, emisi SIA naik 3,8% seiring pertumbuhan permintaan perjalanan udara dan konsumsi bahan bakar yang meningkat. Park mencatat bahwa bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) yang sempat diharapkan mencapai 10% konsumsi global pada 2030, kini masih di bawah 1% karena harganya dua hingga lima kali lipat lebih mahal dari bahan bakar konvensional.
Menghadapi realitas baru, Temasek mengubah skenario iklim yang digunakan untuk menilai risiko investasi. Sebelumnya menggunakan asumsi kenaikan suhu 1,8°C, kini beralih ke skenario "dunia terfragmentasi" dengan kenaikan 2,4°C. Perubahan ini mencerminkan melemahnya koordinasi kebijakan global dan ambisi yang tidak merata antarnegara. Meski target 2030 dipertahankan sebagai "penanda arah", Temasek akan meninjau ulang peta jalan iklimnya dan fokus pada implementasi, keterlibatan portofolio, serta investasi pada teknologi yang berdampak nyata—bukan sekadar melepas aset beremisi tinggi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat Temasek merupakan investor besar di berbagai sektor, termasuk energi dan infrastruktur di kawasan. Langkah Temasek yang lebih pragmatis dan fokus pada transisi energi yang inklusif dapat menjadi sinyal bagi investor global lainnya untuk tidak terburu-buru melakukan divestasi, melainkan mendorong transformasi perusahaan-perusahaan tinggi emisi. Pertanyaannya, apakah pendekatan "ambisi pragmatis" ini cukup untuk menjaga kredibilitas iklim di tengah tekanan publik dan investor yang semakin tinggi?



