China Uji Coba Rudal dari Kapal Selam Nuklir: Jalur Selatan Dipilih, Jepang Siaga Penuh
Baca dalam 60 detik
- China meluncurkan rudal balistik dari kapal selam bertenaga nuklir, memilih jalur selatan melewati dekat Filipina, bukan jalur utara yang melintasi Jepang.
- Peluncuran ini dinilai sebagai unjuk kekuatan kemampuan nuklir berbasis laut China, memicu kekhawatiran keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
- Jepang mengkritik taktik China sebagai 'intimidasi', sementara Taiwan memperkirakan rudal yang digunakan adalah Julang-2, bukan Julang-3 yang lebih canggih.

China kembali menggelar uji coba rudal balistik dari kapal selam nuklir pada pekan ini, memicu ketegangan di kawasan Indo-Pasifik setelah Beijing memilih jalur selatan yang melintasi dekat Filipina, menghindari wilayah udara Jepang. Langkah ini dinilai sebagai sinyal ambiguitas strategis sekaligus unjuk kekuatan militer yang kian percaya diri.
Menurut pemberitahuan awal China dan analisis pakar, ada dua jalur yang dipertimbangkan untuk peluncuran rudal tersebut. Jalur utara akan membawa rudal melintasi Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang, sementara jalur selatan melintas di dekat Filipina. Pada akhirnya, China memilih jalur selatan, dengan rudal diluncurkan dari timur Pulau Hainan di Laut China Selatan. Keputusan ini memicu spekulasi mengenai maksud Beijing, apakah untuk menghindari konfrontasi langsung atau justru sebagai bentuk intimidasi.
Hiroki Sonoda, analis militer dan mantan anggota Pasukan Bela Diri Jepang, menilai uji coba ini bertujuan menunjukkan peningkatan kemampuan nuklir strategis berbasis laut China. โIni adalah demonstrasi kepercayaan diri Beijing atas kemampuan armada kapal selamnya,โ ujarnya. Peluncuran ini merupakan yang kedua kalinya dalam setahun terakhir, setelah uji coba rudal balistik antarbenua ke Samudra Pasifik pada September 2024.
Jepang, yang sejak awal waspada terhadap kemungkinan rudal melintas di atas wilayahnya, mengkritik keras uji coba tersebut. Mantan Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera menyebutnya sebagai โgangguan yang jelasโ dan menargetkan Jepang, Filipina, serta Amerika Serikat. Tokyo bahkan mendesak Beijing untuk membatalkan peluncuran jika mengancam keamanan Jepang, namun permintaan itu diabaikan. Sumber pemerintah Jepang mengakui bahwa mereka sedikit lengah terhadap โtaktik licikโ China, terutama di tengah meningkatnya ketegangan akibat pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi mengenai Taiwan.
Bagi Indonesia, uji coba ini memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas kawasan. Laut China Selatan yang menjadi jalur peluncuran merupakan perairan yang juga menjadi perhatian Jakarta. Peningkatan aktivitas militer China di kawasan ini dapat memicu kekhawatiran akan keamanan jalur pelayaran dan potensi sengketa wilayah. Selain itu, pilihan China untuk tidak menggunakan jalur utara menunjukkan bahwa Beijing masih mempertimbangkan reaksi negara tetangga, namun tetap menunjukkan kekuatan militernya.
Menteri Pertahanan Taiwan, Wellington Koo, mengungkapkan bahwa berdasarkan intelijen, rudal yang diuji kemungkinan besar adalah Julang-2, rudal balistik antarbenua yang diluncurkan dari kapal selam. Julang-2 memiliki jangkauan yang mampu mencapai sebagian besar Asia, namun tidak sejauh Julang-3 yang dapat menjangkau daratan AS. Analis menilai pemilihan Julang-2 menunjukkan China ingin mengirim sinyal tanpa eskalasi berlebihan.
Ke depan, uji coba ini dipastikan akan memperkuat aliansi keamanan Jepang-AS-Filipina dan mendorong negara-negara kawasan, termasuk Indonesia, untuk lebih waspada. Pertanyaan yang muncul: apakah China akan terus menggunakan taktik serupa untuk menguji batas toleransi tetangganya, atau justru akan beralih ke jalur yang lebih konfrontatif?



